“Suwine nang ndi ae peno iku. Ket maeng wes tak enteni nang kene kok gak metu-metu cak ?,” sungut Man Gondo saat motor kesayangan Cak Besut sudah berhenti di warung milik Rusmini yang setia hingga dulu menjadi ajang cangkrukan empat sekawan. Lek Sumo hanya cekikikan mendengar omelan Man Gondo, sementara Rusmini tak perlu ditanya lagi kesibukannya didapur melayani pembeli yang makin siang makin ramai. Cak Besut hanya terkekeh ringan sambal berjalan dibawah pohon rindang tempat mereka berkumpul.
“Aku biasane Yu secangkir kopi gak usah manis-manis seng penting lek diombe langsung mak seerr blus uenak nyo,” kata Cak Besut dengan model slengeannya. Rusmini yang mendengar permintaan Cak Besut hanya tersenyum.
“Cak krungu-krungue abah kate gebrakan maneh, wong-wong seng wes mimpin bakalan digusur utowo dileh nang nggon seng puenak ? aku kok durung ngerti ?,” ucap Man Gondo sambil tersenyum.
“Alah lawas, ketoro gak tau moco tv ndelok berita ne kadipaten Njomplang wong iki, seminggu malah berita iku wes metu sak marine resapel jilid 2 yo Cak,?” canda Lek Sumo sembari tertawa dengan gayanya.
“Iyo kabeh wong-wong sak Njomplang ngerti, peno ancene ndelok India ae poleh otak peno seng dipikir yo ngunu ae,’ tukas Cak Besut. Man Gondo lagi-lagi tersenyum, kemudian berkata lagi.
“lah lek ngunu wes paham kabeh ceritane ben iso katut dipilih wong-wong iku setor piro terus modus e lewat ndi coba,” ujar Man Gondo sembari nyruput kopi.
“Lah mosok cak pean krungu, teko ndi coba aku gak paham,” tukas Lek Sumo langsung berkata kepada karibnya itu sambil makan camilan kesukaannya, sementara Cak Besut hanya bengong mendengar Man Gondo bercerita. Tak lama ia pun langsung mengatakan kepada Cak Besut, apakah hal tersebut benar adanya. Man Gondo pun bercerita, ia pertama mendengar temannya mengungkapkan hal tersebut. Ia kaget dan langsung membawa kabar ini kepada Cak Besut untuk menanyakan apakah model seperti itu dilindungi oleh undang-undang.
“Modus iku pokok e wong seng karep utowo seng pengen lungguh kudu setor tapi bosone gak setor loh Cak, pokok e mereka suruh pinjam ke koperasi,” lanjut Man Gondo. Lebih jauh ia menceritakan, misalkan 500 juta untuk kursi komandan seng ngurusi kesehatan badan, ia harus membuka pinjaman di koperasi senilai besaran yang ditetapkan, baru kemudian uang hasil dari koperasi itulah nantinya diambil oleh orang suruhan abah Suge untuk selanjutnya diserahkan. Cak Besut hanya diam sampai-sampai kopinya disruput oleh Lek Sumo.
Cak Besut termenung kemudian bertanya, apakah pinjaman tersebut diganti oleh komandan yang menghendaki jabatannya ? “Iya otomatis seluruhnya tanggungan si pengaju. Kan pengajuan kredit atas nama dia, meskipun nantinya dia tidak menggunakannya” jawab Man Gondo lagi. Sementara itu, uang hasil dari minjam koperasi ini diam-diam diambil oleh orang yang abah Suge tunjuk. Entah apa yang dipikirkan, Abah Suge memang dikenal cukup oke dulunya. Sebuah pabrik yang pitik miliknya cukup dikenal, belum lagi makanan susis dan lain-lainnya juga dimiliki oleh adiknya itu bahkan sudah mencapai hal yang megilan.
Tapi jika itu cerita itu benar adanya, semua tak bisa lagi disangka. Cak Besut hanya tahu hukum yang diatas lebih dahsyat dari apa yang bakal dikira semua orang. Saat Man Gondo dan Lek Sumo menunggu jawaban dar Cak Besut, ia hanya menghela nafas.
Jare Cak Besut :
“Tuku dodol nang pasar kliwon”
“barang dipangan tibake mambu”
“Omongan akeh iso didol opo maneh lek diitung cukup gawe pawon”
“Seng kuoso iku duduh dolanan kabeh iku ono walesan gawemu”
*Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.







