JOMBANG, KabarJombang.com – Berawal dari ketertarikan membuat kerajinan tangan dan dorongan membantu teman, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Jombang, berhasil membangun bisnis kreatif di bidang dekorasi hantaran pernikahan. Meski tanpa latar belakang pendidikan desain atau pelatihan khusus, Nuzulul Romadhiyah (38) kini dikenal sebagai salah satu perajin hantaran yang laris di wilayahnya bahkan sampai ke luar pulau.
Kisahnya bermula dari keputusan besar yang diambil pada 2017 silam. Saat itu, Nuzulul masih bekerja sebagai kepala toko di sebuah retail modern. Setelah 13 tahun bekerja, ia memilih resign dan memulai lembaran baru yang tak terduga membuka usaha dekorasi hantaran dari rumahnya di Dusun Sambong Santren, Desa Sambong Dukuh, Kecamatan Jombang.
“Awalnya saya hanya coba-coba bantu teman. Ternyata dari situ malah jadi peluang,” cerita Nuzulul saat diwawancarai pada Rabu (22/10/2025).
Tanpa modal besar dan hanya berbekal kreativitas serta keberanian, usaha yang awalnya dirintis dari ruang tamu itu kini berkembang pesat. Permintaan meningkat tajam terutama saat musim pernikahan, bahkan beberapa pesanan datang dari luar Jawa seperti Merauke, Papua.
Produk yang ditawarkan Nuzulul sangat beragam. Mulai dari hantaran pernikahan, mahar, buket bunga wisuda, hingga souvenir custom, semuanya ia kerjakan sendiri dengan detail dan ketelitian tinggi. Menariknya, semua keterampilan tersebut ia pelajari secara otodidak melalui referensi daring dan praktik langsung.
“Dulu sempat takut karena saya bukan lulusan desain, tapi ternyata konsumen lebih melihat hasil dan keunikan karya kita,” ujarnya.
Untuk harga, produk buatan Nuzulul sangat bervariasi, tergantung tingkat kesulitan dan permintaan kustom. Hantaran sederhana bisa didapat mulai Rp250 ribu, sementara paket eksklusif bisa mencapai lebih dari Rp1,5 juta. Dengan pesanan yang terus mengalir, omzet bulanannya kini berada di kisaran belasan juta rupiah.
Meski sudah sukses, Nuzulul tetap mengedepankan prinsip fleksibilitas desain dan kepuasan pelanggan. Ia terbiasa menyesuaikan konsep dengan karakter pasangan yang akan menikah, namun tetap menjaga kualitas hasil akhir.
“Setiap orang punya selera unik. Saya harus bisa menyesuaikan tanpa menurunkan standar hasil kerja saya,” ucapnya.
Meninggalkan pekerjaan tetap tentu bukan keputusan ringan. Namun bagi Nuzulul, langkah itu justru menjadi titik balik kehidupannya, baik secara finansial maupun emosional.
“Dulu saya pikir bekerja tetap itu jaminan aman. Tapi ternyata, menjalani pekerjaan yang kita cintai itu jauh lebih bermakna. Saya bisa lebih dekat dengan keluarga dan tetap produktif,” kata ibu dua anak ini.
Dengan usahanya yang kini stabil dan berkembang, Nuzulul membuktikan bahwa modal utama dalam berwirausaha bukanlah uang atau gelar, melainkan keberanian untuk memulai, konsistensi, dan cinta pada apa yang dikerjakan.
Salah satu pelangganya, Yuanta Pangestu, menyebut karya Nuzulul sebagai kombinasi antara keindahan dan ketepatan waktu.
“Saya pesan buket wisuda, cepat banget jadi dan hasilnya memuaskan. Estetik, sesuai permintaan, dan ramah di kantong,” tuturnya.









