oleh

Warga Saling Cambuk dengan Rotan, Menyambut Musim Panen Padi

KABARJOMBANG.COM – Hanya untuk mempertahankan kesenian asli Kabupaten Jombang, puluhan warga adu kekuatan dengan saling menyambuk dengan menggunakan kayu rotan dengan berukuran 1 meter.

Kesenian itu, sering disebut warga dengan Seni Ujung. Dimana, kesenian yang ditampilkan pada perayaan besar warga di desa lereng Gunung Anjasmoro yang berada di Kecamatan Wonosalam dan Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang.

Dalam penampilannya, warga dibebaskan untuk maju menjadi aktor dalam pertarungan adu cambuk. Meski begitu, sejumlah aturan diterapkan demi menjaga sportifitas kesenian yang diketahui sudah ada sejak jama Kerajaan Majapahit ini.

“Warga yang ingin beradu cambuk dipersilahkan untuk memilih lawan tandingnya. Mereka diberikan kesempatan 3 kali menyambuk dan dicambuk,” kata Samiaji (40) salah satu penggagas kesenian asal Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, Kamis (27/7/2017).

Setelah itu, juri akan menilai berapa luka yang diderita masing-masing peserta. Nah, untuk peserta yang memiliki jumlah luka sedikit daripada lawanya, maka peserta tersebut berhak mendapatkan sejumlah uang yang sudah disiapkan panitia penyelengara Seni Ujung.

“Untuk hadiahnya variatif, semua tergantung dari kesepakatan panitia. Ada yang dihadiahi dengan uang sebesar Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu dalam satu kali penampilan,” jelasnya.

Penonton tak hanya disuguhi dengan penampilan saling cambuk. Sebab, dalam kesenian yang sudah turun temurun itu juga disuguhkan musik gamelan yang dimainkan untuk mengiringi para peserta saat bertarung dalam panggung.

Musik itu, dimaksudkan untuk memberikan semangat kepada peserta saat bertarung. Sehingga, mereka juga diwajibkan menari jika cambukannya mengenai lawan.

“Sedikit tarian, memang diwajibkan kepada peserta. Ini merupakan simbol, bahwa kesenian ini murni untuk adu kekuatan. Sehingga meski saling melukai tidak akan muncul dendam kepada sesama peserta,” beber pria yang akrab disapa Mijek ini.

Seni Ujung, sering digunakan warga sekitar Kecamatan Wonosalam dan Kecamatan Bareng untuk memperingati perayaan-perayaan besar bagi mereka. Seperti ritual meminta hujan, menyambut panen padi, hingga keperluan hajatan warga.

Namun sayang, hingga saat ini kesenian yang sudah lazim dilakukan warga di sekitar Gunung Anjasmoro ini belum dilirik Pemerintah Kabupaten (Prmkab) Jombang sebagai seni yang patut untuk dilestarikan secara profesional. Pasalnya, hingga tahun demi tahun berganti belum ada kegiatan untuk bisa mempopulerkan seni ujung pada masyarakat luas.

“Memang saat ini belum ada respon dari pemerintah daerah untuk melestarikan kesenian ini sebagai ikon Kota Santri. Namun, kita tetap akan melestarikan dengan cara-cara seperti ini. Termasuk kita akan memantenkan, kesenian ini sebagai kesenian asli Kabupaten Jombang,” pungkasnya. (aan/kj)

Berita Lainnya