Tren Gowes Gugah Pria di Sumbermulyo Jombang Bikin Sepeda Kayu

Slamet dengan sepeda kayu yang dibuatnya. (Foto: DianaKN)
  • Whatsapp

JOGOROTO, KabarJombang.com – Tren gowes saat Covid-19 mewabah di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, rupanya memantik sejumlah orang untuk berkreasi. Bahkan, kreasinya tergolong unik. Salah satunya, membuat sepeda berbahan kayu.

Pembuatnya pun bukan seorang tukang kayu, melainkan sehari-harinya sebagai seroang tukang pijat urat. Dia adalah Slamet (54) warga Dusun Semanding, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.

Baca Juga

“Saya aslinya tukang pijat urat. Menolong sesama yang sedang sakit dengan keahlian memijit yang saya punya,” kata Slamet mengawali jawaban pertanyaan KabarJombang.com, Sabtu (29/8/2020).

Meski bukan tukang kayu, soal hasil karya sepeda kayunya ini tak perlu diragukan lagi. Meski masih dibuat secara manual, hasil garapannya bak orang sudah ahli. Halus dan dia menjamin kuat. Untuk mempercantik tampilannya, rangka sepedanya dipercantik dengan ukiran.

Bahkan, Slamet mengaku, saat ini dia sedang memproses pembuatan dua sepeda kayu. Satunya merupakan orderan salah satu Kapolsek di Jombang.

“Ini saya lagi membuat dua sepeda kayu. Satu pesanan salah satu Kapolsek. Satunya lagi nanti buat contok penjualan. Kalau yang itu, saya pakai sendiri,” kata Slmaet, seraya menunjuk sepeda kayu yang sudah jadi.

Slamet menceritakan, idenya itu diawali kesukaannya ngontel dan kemudian menjadi tren saat masa Corona melanda. Lebih lagi, beragam model sepeda ontel pabrikan sudah dimiliki pegowes. Dari situ, dia kemudian ujicoba membuat sepeda yang berbeda dari kebanyakan.

“Akhirnya saya memutuskan membuat sepeda dari kayu. Bahannya dari kayu jati dan campuran jenis kayu lain,” katanya, di sela-sela membuat sepeda kayu di kediamannya.

Dia juga mengaku membuat sepeda kayu, tidak banyak. Alasannya, karena masih dibuat secara manual. Selain itu, dia lebih senang dengan rutinitas sehari-harinya, yakni pijat urat. “Nggak lah, saya nggak promosi dulu. Karena ini masih manual semuanya. Takut mengecewakan jika ada yang pingin lihat,” sambung Slamet.

Ditanya mengenai harga, dia mengatakan belum tahu pasti. Karena harga, lanjut dia, akan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan model yang diinginkan pembeli.

“Kalau harga belum ada patokan, karena juga baru satu bulan membuat sepeda kayu. Tergantung dari model dan kerumitannya seperti apa. Bisa saja kayak yang ini sekitar Rp 5 juta sampai Rp 7 juta,” jelasnya, kembali menunjuk sepeda yang sudah jadi.

Untuk pembuatan sepeda, Slamet mengaku membutuhkan waktu seminggu. Itu pun rangka sepeda saja yang rampung. Selanjutnya, tinggal memasang roda dan kayuhnya. Kemudian, sepeda akan diujicoba hingga satu bulan.

“Kalau sudah cocok dan pas modelnya seperti yang diinginkan, baru sepeda boleh dibawa atau kita kirim. Ujicoba itu, di antaranya mekaniknya nggak eror, nyaman dipakai, dan rangkanya kokoh atau belum,” bebernya.

Disinggung peluang pasar, Slamet mengaku pasrah. Lagi-lagi, dia mengaku lebih menyukai memijat urat. Karena memijat dinilainya membantu sesama.

“Ya sambil jalan nanti seperti apa. Karena memang ini modalnya banyak. Nanti udah bikin banyak malah nggak laku, kan juga susah. Kalau ada yang pesan aja baru saya bikin, ” Pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait