Kuliner Tradisional

Gulali Legendaris Buatan Kakek Ateng di Jombang, Permen Tradisional yang Mulai Langka

Ateng (85) berjualan permen tradisional gulali dari Mojowarno ke Mojolegi, Kecamatan Mojoagung. Kabarjombang.com/Daniel Eko/
Ateng (85) berjualan permen tradisional gulali dari Mojowarno ke Mojolegi, Kecamatan Mojoagung. Kabarjombang.com/Daniel Eko/
  • Whatsapp

MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Permen, siapa yang tidak suka dengan camilan manis satu ini, cocok untuk menemani di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

Generasi millenial mungkin lebih mengenal ragam jenis permen modern produksi pabrik yang beredar di pasaran. Padahal Indonesia memiliki beragam jenis permen tradisional dengan cita rasa khasnya. Mulai permen ting-ting jahe, rambut nenek hingga gulali.

Baca Juga

Namun beberapa jenis permen tradisional tersebut sekarang sudah mulai jarang ditemui. Salah satunya permen gulali.

Camilan manis ini dibuat dari bahan dasar gula yang umumnya diberi tambahan pewarna makanan untuk membuat tampilannya semakin menarik.

Permen gulali sudah semakin jarang ditemui karena kalah bersaing dengan permen modern. Namun di Kabupaten Jombang masih ada satu orang yang sampai saat ini masih menjajakan permen tradisional gulali keliling.

Ateng, pria berusia 85 tahun ini setiap pagi harus mengayuh sepeda anginya dari rumahnya di Mojowarno untuk keliling menjajakan camilan tradisional permen gulali.

Seperti siang itu, Minggu (21/2/2021) ribuan kilometer harus ditempuhnya dari Mojowarno ke Mojolegi, Kecamatan Mojoagung untuk mengais rizki menjajakan permen gulali yang dijualnya keliling kampung-kampung.

Dengan membawa gerobak berwarna biru, Nursikin nama aslinya itu menjajakan gulali mulai pagi hari pukul 06.00 WIB hingga siang hari. Tempat mangkal biasanya yakni di Kecamatan Mojoagung tepatnya di Mojolegi.

Permen gulali buatan Ateng ada sejak 1962. Kabarjombang.com/Daniel Eko/
Permen gulali buatan Ateng ada sejak 1962. Kabarjombang.com/Daniel Eko/

“Saya sudah berjualan sejak tahun 1962. Kalau dihitung-hitung sudah 59 tahun jualan gulali. Kalau kelahiran saya asli Pemalang, Jawa Tengah. Tapi saya punya keluarga dan anak, tinggal di Grogolan, Mojowarno,” ungkapnya kepada KabarJombang.com.

Ia memulai berjualan gulali yang dibuatnya sendiri sejak harga gulali 2,5 rupiah per biji pada tahun 1962an, sementara saat ini harga gulali dibandrol Rp 1000.

Gulali buatan Ateng, memiliki rasa dan tekstur berbeda dengan pada umumnya. Memiliki rasa manis yang pas serta renyah jika digigit alias tidak keras. Ada dua varian warna yang dijajakan, yakni hijau dan oranye. Bahan dasar gulali tersebut adalah gula asli dibakar hingga mengental dan bisa dibentuk.

Berbagai karakter gulali yang ditawarkan diantaranya adalah pistol, jagung, anggur, tuyul, dan lain sebagainya. Bahkan bisa menerima request an pembeli.

Teknik membuat gulali, selain gula yang sudah diolah dibutuhkan keahlian tangan untuk membentuk, setelah gulali di uleni dengan tangan kemudian gulali dimasukan dalam cetakan yang terbuat dari batu. Kemudian gulali dipompa secara manual.

Hingga akhirnya membentuk karakter yang diingkan, lalu di beri lubang sedikit untuk menancapkan tusuk bambu buat pegangan tangan.

“Sebelum adanya pandemi corona, saya jualan di sekolah TK dan SD. Semenjak sekolah tutup saya keliling desa. Seperti saat ini ada di Mojolegi,” jelas kakek Nursikin atau Ateng.

Walupun banyak pesaing berbagai bentuk dan jenis permen di toko modern. Ternyata gulali buatan Ateng memiliki daya tarik sendiri.

“Gulali buatan saya ini nggak hanya diminati anak-anak saja kok. Orang tua juga biasanya beli,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait