Getuk Jombang, Makanan Tradisional Tak Lagi Moncer 

Nikmah salah satu penjual getuk di pasar tradisional, Cukir, Diwek, Jombang.  (Daniel Eko ).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Getuk merupakan salah satu makanan tradisional yang populer di Jawa Timur. Makanan ringan ini terbuat dari bahan dasar ketela pohon atau singkong.

Getuk buatan Nikmah (49) yang dijajakan di Pasar Tradisional Cukir, Jombang ini pembuatannya dilakukan dengan cara ditumbuk.

Baca Juga

Sudah jarang jajanan getuk dikonsumsi anak-anak atau anak muda pada era saat ini. Kebanyakan anak milenial lebih memilih camilan ringan (ciki) atau sejenis nuget.

Ucapan KFM
iklan podcat Jombang
iklan Ramadhan bkad Jombang
iklan Ramadhan disdik Jombang
iklan Ramadhan Pupr Jombang
iklan Ramadhan Bappeda Jombang
iklan Ramadhan Satpol PP Jombang
iklan bank jombang kredit
iklan bank jombang nabung
iklan bank jombang

Padahal getuk khas Jombang ini, selain berbahan dasar asli dari tanah Jawa. Juga tanpa menggunakan bahan pengawet maupun pewarna, alias alami.

“Pembuatannya ini diawali dengan mengupas singkong dan dibersihkan. Baru kemudian direbus sampai matang, lalu dihaluskan dengan cara ditumbuk,”tutur Nikmah warga Jatirejo, Diwek ini.

Untuk memberikan cita rasa manis dan khas, olahan singkong itu diberikan pemanis berupa gula. Namun untuk tekstur warna kuning merupakan warna asli dari singkong itu sendiri, tanpa pewarna buatan.

Tak lengkap jika satu porsi getuk tanpa kelapa parutnya. Sebab taburan kelapa parut diatas getuk membuat cita rasa gurih yang khas.

Ketika olahan getuk itu dipotong-potong sesuai ukuran dan disajikan dengan parutan kelapa. Rasanya ketika masuk mulut sangat lembut dan manis.

Terlebih jika parutan kelapa itu menyatu dengan getuk rasanya lebih manis gurih. Walaupun dengan cita rasa tradisional yang khas, makanan ini jarang dilirik kaum milenial.

“Rata-rata yang beli ya orang tua, anak muda mana mau makanan beginian. Apalagi sejak pandemi ini penjualan semakin lesu,” keluhnya.

Nikmah yang setiap hari berjualan di salah satu lapak Pasar Cukir, harus lebih extra menjajakan jualannya. Sebab masa pandemi sangat turun drastis.

“Harganya murah, mulai dari Rp 2 ribu rupiah. Kalau bakulan kan dijual kembali, harganya Rp 2.500 dipotong, satu potongnya dijual Rp 1.000. Sebelum pandemi jam 8 sudah pulang, saat ini jam 12 baru pulang,” pungkasnya.

 

 

 

Berita Terkait