Sulap Cuilan Kayu Dadap, Jadi Pendapatan Jutaan Rupiah

Pengrajin saat mengukir topeng Barongan dari kayu dadap, yang bernilai jutaan rupiah. (FOTO: AAN)

KABARJOMBANG.COM – Tenggelamnya budaya tradisional di era modernisasi, tak menyurutkan pemuda asal Dusun/Desa Banjarsari Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, untuk terus melestarikan budaya tradisional Jawa Timuran. Dia adalah Arif Suyanto, pemuda 29 tahun yang memilik jiwa kesenian jawa cukup tinggi.

Pemuda yang aktif dalam kesenian Barongan ini, berhasil melestarikan kerajinan topeng barongan yang diwariskan orang tuanya. Tak tanggung-tanggung, di tangan kreatifnya, kayu dadap berukuran setengah meter bisa berharga jutaan rupiah. Betapa tidak, dengan mengukir kayu dadap menjadi topeng kesenian barongan, pemuda ini bisa menghasilkan Rp 3 juta per satu topeng barongan.

Cukup mahal bukan. Minimnya pengrajin topeng barongan di Kota Santri, membuat keahlihan Arif begitu mahal. Dalam seminggu, Arif bisa menghasilkan satu topeng barongan. Ini disebabkan dirinya masih menggunakan peralatan tradisional. Bukan tanpa alasan, ini dilakukan dirinya untuk menjaga keaslian topeng dari tangan pengrajin.

“Memang sengaja hanya menggunakan alat tradisional berupa tatah dan pisau kecil. Ini agar ukiran dalam topeng tetap terjaga keasliannya,” katanya Sabtu (1/4/2017).

Termasuk penggunaan kayu jenis dadap, karena dianggap lebih ringan dan tidak mudah retak. Asal pengolahannya tepat, lanjutnya, maka hasil yang diperoleh dari pahatan tersebut sangat memuaskan.

“Sebelum diukir atau dibentuk menjadi topeng, tidak boleh kena panas atau kena hujan. Harus tersimpan di ruangan yang lembab,” terang Arif.

Dalam sepekan, dirinya hanya bisa membuat kerajinan topeng barongan 2 buah topeng. Meski begitu, banyaknya minat pemesan dari luar kota, tetap menyibukan dirinya untuk terus memahat kayu dadap di pangkuannya. “Masih banyak yang meminta untuk dibuatkan, termasuk dari Kota Mojokerto dan Kediri,” ungkapnya.

Dengan dibantu enam temannya yang juga bergabung dalam Komunitas Kesenian Barong miliknya, setiap pagi dirinya mengerjakan pesanan dari luar kota. Jika dilihat dari segi harga, memang menurutnya harga Rp 3 hingga Rp 4 juta per topeng bukanlah hal yang mahal. Sebab mahalnya kayu jenis dadap, yang dipilihnya membuat harga topeng semakin tinggi.

“Harga kayu dadap satu potong sudah Rp 500 ribu. Dan jika dilihat dari segi pekerjaannya yang rumit harga itu tidak masalah bagi pelanggan saya,” cetusnya.

Terbukti, hingga saat ini dirinya masih menerima orderan dari sesama pecinta kesenian barongan. Hasilnya, dalam sebulan dirinya bisa mengantongi pund-pundi rupiah dari Rp 7 hingga Rp 8 juta. “Alhmdllah hingga saat ini ada saja pecinta seni yang order disini,” pungkasnya.

Jika tidak ada pembeli yang memesan, alat-alat tersebut tetap dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sebab, dirinya juga menyewakan jasa seni tradisional tari topeng barongan. “Kami juga sering pentas seni topeng barongan, dan itu bisa sampai luar kota,” teranganya.

Tarifnya, dalam satu kali pentas yang hanya berdurasi 4 hingga 5 jam, rata-rata sebesar Rp 2 hingga Rp 3 juta. Tetapi, tarif itu masih harus dibagi dengan 30 pemain pentas seni. “Selain itu, tarif kendaraan juga ikut dalam biaya itu. Tetapi Alhamdulillah satu kali pentas, satu orang bisa mendapatkan Rp 50 ribu,” ungkapnya. (aan/kj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here