Menolak Punah, Intip Geliat Perajin Besek Tradisional di Jombang

Momen Nurkhasanah dan Sophia ketika menyelesaikan pesanan besek bambu. (Istimewa/KabarJombang)
  • Whatsapp

MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Di tengah derasnya arus penggunaan kemasan plastik sekali pakai, dua perempuan lanjut usia di Dusun Dukuhsari, Desa Janti, Kecamatan Mojoagung, Jombang, masih setia menjaga tradisi kerajinan dari bambu dengan cara merajut besek bambu secara tradisional di tengah maraknya penggunaan plastik sekali pakai.

Nurkhasanah (67) dan Sophia (57) merupakan sebagian dari para perajin di Kabupaten Jombang yang masih setia membuat besek atau tumbu wadah berbahan dasar bambu yang kini kian jarang ditemui di pasaran. Di rumah sederhana mereka, proses produksi dilakukan secara manual, mulai dari memotong hingga menganyam bambu dengan peralatan seadanya.

Baca Juga

Bagi Nurkhasanah, menganyam bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan keluarga yang terus ia jaga. Keterampilan itu telah ia tekuni sejak lama, diwariskan secara turun-temurun dari orang tuanya.

“Ini sudah saya kerjakan sejak dulu, belajar dari orang tua. Sampai sekarang masih terus saya lanjutkan,” terangnya, Minggu (12/4/2026).

Meski usia mereka tidak lagi muda, ketelatenannya dan semangatnya tak pernah luntur. Setiap helai bambu dirangkai dengan ketelitian, membentuk besek yang sederhana namun sarat makna. Dalam satu kali produksi, kebutuhan bahan baku bambu sekitar Rp50 ribu. Dari jumlah tersebut, keduanya mampu menghasilkan puluhan besek yang dijual dengan harga Rp15 ribu per 20 buah.

Nilai jual yang tergolong rendah tidak lantas mematikan pasar besek bambu. Permintaan masih datang dari pelanggan tetap di wilayah Jogoroto, yang memanfaatkan besek sebagai wadah makanan tradisional, seperti tape singkong maupun nasi.

Namun demikian, Sophia mengakui jumlah perajin besek di wilayah Jombang kini semakin berkurang. Banyak yang memilih beralih profesi seiring menurunnya minat masyarakat terhadap hasil karya kerajinan tradisional tersebut.

“Sekarang sudah jarang yang membuat. Tapi kami ingin tetap melanjutkan supaya anyaman ini tidak hilang,” ujarnya.

Hasil produksi mereka biasanya diambil oleh pengepul setelah jumlahnya mencukupi. Meski dikerjakan secara sederhana, aktivitas ini tetap memberikan tambahan penghasilan bagi keduanya.

Lebih dari sekadar nilai ekonomi, besek bambu menyimpan nilai budaya sekaligus menjadi alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik sekali pakai. Di tengah arus modernisasi, upaya Nurkhasanah dan Sophia menjadi cermin ketekunan dalam menjaga warisan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

“Alhamdulillah bisa menambah penghasilan, dan nilainya cukup,” pungkas Sophia.

Berita Terkait