Seorang perajin tampak memahat kayu waru untuk dijadikan topeng khas Wayang Topeng Jatiduwur. (Istimewa/KabarJombang)
KESAMBEN, KabarJombang.com – Seorang perajin tampak memahat kayu waru di sudut Sanggar Tri Purwo Budoyo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Melalui proses sederhana itu, topeng-topeng khas Wayang Topeng Jatiduwur terus dibuat sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi, Selasa (21/4/2026).
Seorang perajin tersebut akrab disapa Kopral, kayu waru diolahnya dengan penuh rasa ketelitian. Setiap guratan pahat membentuk karakter wajah yang khas, mencerminkan ragam tokoh dalam pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur. Proses ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam setiap topeng.
Kayu waru yang digunakan sebagai bahan baku diperoleh dari lingkungan sekitar. Selain mudah didapat, jenis kayu ini dinilai cukup lentur dan cocok untuk dibentuk menjadi topeng dengan detail yang halus.
Bagi Sanggar Tri Purwo Budoyo, pembuatan topeng bukan sekadar aktivitas produksi, melainkan bagian dari langkah menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.
Pengelola sanggar, Isma Hakim, menyebut pengembangan ini menjadi salah satu fokus dalam program pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur.
“Kita kembangkan pembuatan topeng dan melatih anak-anak untuk menar,” ujarnya.
Tidak berhenti pada kebutuhan pementasan, topeng-topeng yang diproduksi juga diarahkan menjadi merchandise bagi pengunjung. Langkah ini diharapkan dapat membuka ruang baru bagi pengenalan kesenian sekaligus memberi nilai tambah secara ekonomi.
Selain topeng, berbagai ornamen pendukung seperti selendang dan koncer juga direncanakan untuk diproduksi. Ke depan, sanggar akan menyiapkan program edukasi bagi anak-anak agar tidak hanya mengenal, tetapi juga mampu membuat topeng dan menari.
Upaya ini mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Setyo Yanuartuti, menilai Wayang Topeng Jatiduwur memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai media kreatif.
“Awalnya dari sebuah visual topeng dengan berbagai bentuk karakter. Berawal dari sana kemudian menjadi sebuah pertunjukan yang dilengkapi dengan perangkat-perangka,” ungkapnya.
Menurutnya, kesenian ini tidak hanya dapat diposisikan sebagai bagian dari tradisi ritual, tetapi juga berpeluang menjadi seni pertunjukan yang lebih luas. Karakter topeng, busana, hingga musiknya dinilai dapat menjadi sumber pengembangan produk kreatif.
“Tahun ini kami punya program untuk membuat merchandise. Berawal dari karakter yang dimiliki pertunjukan wayang topeng ini, baik topengnya, busananya, maupun musiknya, bagaimana ini bisa dijadikan sumber awal untuk dikembangkan dalam seni kriya,” jelasnya.
Melalui pengembangan tersebut, ia berharap Wayang Topeng Jatiduwur tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkontribusi pada tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis lokal.
“Untuk membangunkan ekonomi kreatif, kami akan mengembangkan itu bersama-sama dengan Sanggar Tari Tri Purwo Budoyo,” pungkasnya.
Leave a Comment