Proses produksi sablon manual di Kainos Konveksi & Sablon Kaos, Dusun Weru, Mojongapit, Jombang. (Kevin Nizar)
JOMBANG, KabarJombang.com – Momentum bulan Agustus dan persiapan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, membawa berkah bagi pelaku usaha konveksi dan sablon, salah satunya usaha Kainos di Dusun Weru, Desa Mojongapit, Jombang.
Pemilik usaha, Prasetya Rahmad alias Dian, menyebut permintaan kaos meningkat signifikan hingga seratus persen menjelang bulan Agustus dan Muktamar NU.
Jika pada hari biasa pesanan berkisar di angka 500 kaos per bulan, kini jumlahnya melonjak mencapai sekitar 1.000 kaos per bulan.
”Kalau sebelumnya paling 500 pesanan, kalau sekarang bisa 1.000 per bulan,” kata Dian saat diwawancarai di tempat produksinya, Jumat (21/8/2026).
Lonjakan pesanan ini datang dari berbagai kegiatan, mulai dari perayaan HUT Kemerdekaan RI, karnaval, kepanitiaan, hingga persiapan Muktamar NU ke-35.
Di tengah lonjakan tersebut, proses produksi sablon manual tetap membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi karena melewati tahap menjahit hingga finishing.
”Kalau sehari rata-rata antara 50-70. Cuma itu tidak setiap hari. Kan ada proses untuk menjahit, terus ada proses untuk finishing,” terang Dian.
Untuk satu kali pesanan, waktu pengerjaan rata-rata membutuhkan waktu sekitar tiga hari, tergantung pada jenis dan jumlahnya.
Meskipun teknologi sablon digital semakin berkembang, Dian tetap mempertahankan metode sablon manual demi menjaga kualitas dan keawetan produk.
”Kalau untuk sablon manual dari segi kelebihan, kualitas keawetan hasilnya lebih bagus, tahan lama, warnanya lebih solid,” jelasnya.
Sebaliknya, sablon digital diunggulkan dari sisi efisiensi waktu dan tenaga, meski dari segi kualitas cetak terkadang masih berada di bawah manual.
”Kalau digital dari segi kualitas mungkin masih di bawah yang manual. Tapi dia memiliki kelebihan dari segi efisien waktu, efisien tenaga,” katanya.
Bagi Dian, tantangan terbesar usaha sablon manual saat ini adalah bersaing dengan gempuran teknologi sablon digital di pasaran.
”Kalau sekarang untuk sablon manual paling susah itu tantangannya karena ada sablon digital. Jadi pasar seakan-akan berebut,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menyikapi persaingan tersebut dengan cara berkolaborasi agar metode manual dan digital dapat berjalan berdampingan memenuhi kebutuhan konsumen.
”Kalau di kita sendiri kita kolaborasi. Jadi antara manual digital itu harus bisa berjalan berdampingan, harus kita gunakan,” pungkasnya.
Leave a Comment