Sejarah Masjid Tiban di Desa Dapurkejambon, Jombang

Masjid Manaazilul Akhiroh di Dusun Jambon, Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, diyakini masyarakat sekitar sebagai masjid tiban atau masjid yang muncul tiba-tiba. (Istimewa).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Masjid Manaazilul Akhiroh di Dusun Jambon, Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, diyakini masyarakat sekitar sebagai masjid tiban atau masjid yang muncul tiba-tiba. Nama Manaazilul Akhiroh diberikan oleh Kiai Farhan, keturunan dari Kebokicak.

Menurut warga Kepala Desa Dapurkejambon, Subbatul Alimi, cerita masjid tiban ini berawal saat Kiai Nur Khotib menantu Kebokicak punya rutinan salat Jumat di Masjid Sunan Ampel Surabaya.

Baca Juga

Suatu hari Kiai Nur Khotib ini telat tiba di Surabaya. Setelah salat Jumat, Kiai Nur Khotib didatangi seorang ulama dan menasihati Kiai Nur Khotib untuk Jumat selanjutnya tidak perlu lagi datang ke Surabaya hanya untuk salat Jumat. Tapi diminta mendirikan salat Jumat di Jombang saja.

Saat Kiai Nur Khotib kembali ke Jombang, hal ajaib terjadi. Kiai Nur Khotib melihat tidak jauh dari rumahnya ada bangunan mirip masjid yang berdinding bambu sudah berdiri dengan gagah. Kabar adanya masjid baru ini tersebar kemana-mana lewat cerita dari warga satu ke yang lain lalu meluas ke berbagai daerah.

“Kiai Muhtar ini asalnya dari Desa Banyuarang, Jombang. Kiai Muhtar punya anak namanya Nur Khotib, punya anak namanya Ali, lalu lahir Baniyyah punya putra bernama Kiai Umar, lalu Kiai Idris, kemudian Kiai Hasyim. Dari Kiai Hasyim ini menurunkan Kiai Abdul Fattah yang menikah dengan Nyai Musyarofah binti KH Bisri Syansuri,” bebernya, ketika itu.

Dalam versi sejarah lain, seperti silsilah keturunan yang tertulis di makam Kiai Usman Tambakberas. Kiai Muhtar tidak memiliki putra bernama Kiai Nur Khotib seperti yang dipaparkan Alimi. Namun dari Kiai Muhtar langsung ke Ali hingga sampai Kiai Abdul Fattah, pendiri Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas.

Ia melanjutkan, dari pasangan KH Abdul Fattah-Nyai Musyarofah menurunkan Nyai Nafisah (istri KHMA Sahal Mahfudz), Nyai Khuriyah (istri KH M Djamaluddin Ahmad) dan Rais Syuriah PCNU Jombang saat ini KH Abdul Natsir Fattah. Dari Nyai Khuriyah ini menurunkan Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PBNU saat ini KH Abdul Ghaffar Rozin.

“Di Jombang kiai yang paham silsilah ini yaitu Pengasuh Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum KH M Djamaluddin Ahmad. Silakan sowan ke sana,” ujar Alimi.

Masjid Manaazilul Akhiroh pertama kali direnovasi pada 1967, sejak dibangun perkiraan pada abad 18 lalu. Dan renovasi kedua tahun 2019. Meskipun bangunannya dirombak total, tapi beberapa bagian yang masih asli. Seperti kubah, menara dan batu pijakan untuk naik ke masjid masih dijaga karena keasliannya.

Masjid ini kubahnya persegi empat bertingkat dan di ruang utamanya menjulang empat pilar berwarna keemasan. Di bagian depan bangunan ibadat itu bermihrab dua, yang sisi selatan (kiri) sebagai tempat imam salat dan yang sebelah utara (kanan) untuk tempat khatib Shalat Jumat. Di teras masjid itu tampak bedug besar tersangga dua kayu.

“Khusus pilar empat di tengah masjid itu didatangkan dari Sendang Made yang berada di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang,” ungkap Alimin.

Menurut penututuran Alimin, lokasi pembangunan masjid tersebut merupakan tanah milik Jaka Tulus alias Kebokicak. Cerita itu berawal saat Kebo kicak bertemu Mbah Muhtar di Desa Banyuarang. Kebokicak saat itu terkenal akan kesaktiannya. Setelah bertemu Kiai Muhtar, Kebokicak mengajak adu kesaktian. Saat itu pertarungan dimenangkan Kiai Muhtar dan Kebokicak pun pulang ke rumahnya.

Setelah pertarungan sengit itu, Kebokicak jatuh sakit cukup parah dan yang bisa mengobati hanya Kiai Muhtar. Lalu Kebokicak datang ke pedepokan Kiai Muhtar dan minta diakui sebagai murid dan belajar syariat Islam.

Setelah menuntut ilmu ke Kiai Muhtar, ternyata Kebokicak tidak mau pulang lagi ke rumah karena merasa betah. Namun karena diminta Kiai Muhtar terus menurus, akhirnya Kebokicak mau pulang asalkan putra dari Kiai Muhtar yang bernama Nur Khotib dinikahkan dengan putrinya bernama Pandan Manuri, anak dari Kebokicak dan Pandan kuning.

“Kiai Nur Khotib ikut pulang bersama Kebokicak dan mensyiarkan Islam di Jombang bagian utara. Pusatnya di Dapurkejambon ini,” ujar pria yang masih keturunan Kebokicak ini.

Hingga saat ini, masjid tua tersebut masih menjadi pusat kajian agama Islam dan sentral kegiatan keagamaan warga sekitar. Untuk pengelolaannya dibuat secara kolektif, dari keturunan Kebokicak dan masyarakat setempat. Agenda rutinan seperti tahlilan, shalawatan, ngaji Al-Qur’an, dan peringatan hari besar Islam masih terus diselenggarakan di masjid tersebut.

Tidak jauh dari masjid, tepatnya bagian utara masjid berdiri megah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kebokicak. Madrasah ini telah banyak melahirkan generasi Islami yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits. Selain itu, masjid dan madrasah ini menjadi simbol bahwa syiar Islam yang diwarisi para leluhur ini masih dipegang teguh oleh keturunannya.

“Madrasah ini dikelola keluarga besar kita secara swasta. Kita ingin ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Madrasah ini satu kesatuan dengan masjid. Karena peserta didiknya diajarkan shalat berjamaah di masjid,” tandasnya.

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait