Nyepi Berdekatan Lebaran, Potret Toleransi di Ngoro Jombang Ini Bikin Adem

Perayaan Nyepi di Dusun Ngepeh, Rejoagung, Ngoro, Jombang. (Istimewa)
  • Whatsapp

NGORO, KabarJombang.com – Perayaan Hari Raya Nyepi di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang berlangsung dengan penuh kekhusyukan meskipun waktunya berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Nyepi jatuh pada Kamis, 19 Maret, sedangkan Idulfitri berselang dua hari setelahnya, yakni Sabtu, 21 Maret 2026.

Baca Juga

Kondisi tersebut tidak menimbulkan gangguan berarti bagi umat Hindu setempat yang telah terbiasa hidup berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lain.

Pemangku di Pura Amerta Bhuana, Pranutik, menjelaskan sebelum pelaksanaan hari raya, telah dilakukan koordinasi lintas agama guna menjaga kenyamanan bersama. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa kegiatan takbiran tetap diperbolehkan, namun tanpa penggunaan pengeras suara saat berdekatan dengan umat Hindu yang menjalankan Nyepi.

“Kesepakatannya takbiran boleh, tapi tanpa sound. Namun pada praktiknya tidak bersamaan karena Lebaran jatuh setelah Nyepi,” ujar Pranutik pada Selasa (24/3/2026).

Ia menambahkan, pelaksanaan Nyepi tahun ini berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya tanpa kendala berarti. Meskipun umat Muslim masih melaksanakan salat tarawih pada malam hari, hal itu tidak mengganggu jalannya rangkaian Nyepi.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah menjadi hal yang biasa. Ia mengatakan bahwa umat Hindu di Ngepeh telah terbiasa dengan aktivitas keagamaan warga lain sehingga tetap bisa menjalankan ibadah dengan tenang.

Rangkaian upacara keagamaan juga dilakukan secara terpusat bersama umat Hindu lainnya di Kabupaten Jombang. Upacara Melasti dan Tawur Agung, termasuk prosesi ogoh-ogoh, dilaksanakan di wilayah Wonosalam.

“Semua kegiatan dipusatkan di Wonosalam, jadi kami mengikuti bersama umat Hindu lain dalam satu kabupaten,” jelasnya.

Setelah prosesi pembakaran ogoh-ogoh, warga kembali ke dusun untuk melanjutkan persembahyangan di pura setempat. Mereka juga melakukan ritual keliling kampung tanpa membawa ogoh-ogoh, sebelum akhirnya bersiap menyambut Hari Raya Nyepi dengan membersihkan lingkungan rumah masing-masing.

Pranutik menjelaskan bahwa pelaksanaan Catur Brata Penyepian dilakukan sesuai ketentuan. Anak-anak mulai menjalankannya sejak tengah malam, sementara orang dewasa memulai pada pagi hari hingga keesokan harinya.

Ia juga sempat mengira malam takbiran berlangsung lebih awal karena suasana yang sangat tenang.

“Kami sempat heran karena tidak terdengar takbiran. Ternyata Lebaran masih dua hari lagi,” ungkapnya.

Setelah Nyepi berakhir, pihaknya bahkan memberikan kesempatan kepada umat Muslim untuk melaksanakan takbiran dengan pengeras suara.

“Kami sampaikan bahwa Nyepi sudah selesai, jadi silakan takbiran menggunakan pengeras suara,” katanya.

Pranutik berharap suasana rukun antarumat beragama di Dusun Ngepeh dapat terus dipertahankan. Ia menegaskan bahwa nilai kebersamaan yang selama ini terjalin merupakan bagian dari warisan yang harus dijaga.

Umat Hindu di Dusun Ngepeh sendiri berjumlah sekitar 20 kepala keluarga atau sekitar 60 jiwa. Mereka hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat dari berbagai latar belakang agama, mencerminkan kehidupan yang harmonis dalam keberagaman.

Berita Terkait