JOMBANG, KabarJombang.com- Fenomena konsumsi berlebihan saat berbuka puasa atau yang kerap disebut “kalap berbuka” dikupas secara kritis dalam Majelis Ilmu Ngaji Bareng pada Ramadan 1447 H di Mushola Al-Fath Jagalan, Kepatihan, Jombang.
Ustadz Achmad Saifullah Syahid menilai perilaku itu bukan semata persoalan gagal mengendalikan nafsu, melainkan cerminan tekanan sistem kerja yang menguras energi masyarakat sepanjang hari.
“Ketika seseorang makan berlebihan saat berbuka, kita tidak bisa hanya menegurnya dengan ayat tentang israf. Kita perlu bertanya lebih jauh: sistem apa yang membuat ia sampai pada titik itu? Dakwah yang tidak bertanya tentang sistem adalah dakwah yang tidak lengkap,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Ustadz Achmad Saifullah Syahid sekaligus pegiat jamaah Maiyah Padhangmbulan, menjelaskan banyak warga Jombang menjalani puasa di bawah tekanan kerja yang tidak berhenti meski di bulan Ramadan. Rapat daring tetap dipadatkan, pesan atasan terus masuk, dan target harian tidak bergeser. Tidak sedikit yang baru bisa berbuka dalam perjalanan pulang, atau meneguk air pertama di sela notifikasi yang belum sempat dibalas.
Kondisi itu menjadikan waktu berbuka bukan lagi sekadar momen spiritual, melainkan katarsis pelepasan emosional atas hari yang seluruhnya dikendalikan oleh deadline, target, dan tekanan ekonomi.
“Ledakan itu bukan semata soal lapar. Ia adalah kompensasi psikologis atas hari yang penuh kendali dari luar. Ramadan seharusnya menjadi latihan merebut kembali kendali atas ritme hidup kita, bukan sekadar menahan makan,” ujarnya.
Selain itu, Cak Saiful sapaan akrab Ustadz Achmad Saifullah Syahid di majelis Maiyah Padhangmbulan, menjelaskan pendekatan ceramah Ramadan yang selama ini dominan pun turut dikritisinya.
Ia menilai pola dakwah yang ada meminjam apa yang dikritik filsuf pendidikan Paulo Freire sebagai (Banking Education), namun dalam versi spiritual. Kebajikan ditabungkan ke dalam diri individu tanpa menyentuh struktur yang memproduksi pemborosan itu sendiri. Beban perubahan diletakkan sepenuhnya pada individu, sementara sistem yang membentuk perilaku itu dibiarkan berjalan aman dan tak tersentuh.
Imbauan “makan secukupnya” tanpa menyentuh akar struktural yang memproduksi kelelahan psikologis disebutnya sebagai pesan yang justru memindahkan persoalan sistemis menjadi rasa bersalah individual.
“Puasa yang sejati bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari ikut melanggengkan struktur yang menindas. Ramadan adalah momentum untuk membaca realitas sosial secara lebih jujur,” pungkasnya.
Fenomena ledakan konsumsi saat berbuka di Jombang dinilai akan terus berulang setiap tahun selama pertanyaan tentang sistem yang memproduksi kelelahan itu tidak pernah diajukan secara terbuka di ruang-ruang dakwah maupun kebijakan publik.









