JOMBANG, KabarJombang.com – Wacana percepatan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) terus mengemuka pasca islah yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Salah satu anggota Forum Kiai Sepuh NU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan bahwa kunci utama percepatan muktamar adalah membuka ruang musyawarah seluas-luasnya untuk menyatukan persepsi seluruh elemen NU.
Gus Kikin yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menyampaikan bahwa muktamar memang menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan islah yang dicapai para kiai sepuh bersama PBNU di Lirboyo. Namun demikian, ia menekankan bahwa proses menuju muktamar harus tetap ditempuh secara matang dan penuh kehati-hatian.
“Ya memang harus dibicarakan, harus melalui musyawarah. Nanti pembicaraan-pembicaraan itu dibuka di forum-forum untuk bermusyawarah,” ujar Gus Kikin, dalam keterangan yang diterima Selasa (5/1/2026).
Menurutnya, peran Kiai Sepuh saat ini bukan untuk memaksakan jadwal, melainkan mendorong terjadinya penyamaan pandangan agar tidak lagi muncul pertentangan di internal NU. Dengan kesamaan maksud dan pemahaman, percepatan muktamar akan lebih mudah diwujudkan.
“Supaya nanti semuanya ketemu, tidak banyak lagi pertentangan-pertentangan. Semuanya paham bahwa muktamar itu penting. Kalau sudah sama-sama paham, insyaallah bisa dilaksanakan lebih cepat,” jelasnya.
Terkait harapan Kiai Sepuh mengenai kepastian waktu pelaksanaan Muktamar NU, Gus Kikin menyebut saat ini masih terlalu dini untuk menentukan jadwal. Proses yang berjalan masih berada pada tahap penyamaan persepsi dan pemahaman bersama.
“Belum sampai ke sana. Ini baru tahap penyamaan persepsi, penyamaan paham. Supaya nanti semua memang menginginkan muktamar itu dipercepat,” katanya.
Menanggapi pernyataan sebelumnya dari Juru Bicara Kiai Sepuh NU, KH Abdul Mu’id Shohib, yang menyebut agar pelaksanaan muktamar tidak berbenturan dengan musim haji, Gus Kikin menegaskan bahwa hal tersebut masih sangat bergantung pada hasil pertemuan dan musyawarah selanjutnya.
“Itu kan tergantung dari pertemuan-pertemuan ini. Jatuhnya kapan, ya tergantung hasil musyawarah. Makanya kita doakan bersama supaya semuanya bisa sepaham, semuanya sepakat, dan muktamar bisa segera dilaksanakan,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Muktamar ke-35 NU disepakati sebagai bagian dari hasil islah di Lirboyo, Kediri, dan pelaksanaannya sepenuhnya berada di bawah kewenangan PBNU bersama Rais Aam.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa pembicaraan mengenai muktamar masih berada pada fase awal, terutama dalam upaya menyatukan pandangan seluruh unsur NU sebagai bagian dari proses islah dan penguatan organisasi.
Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri acara Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (4/1/2026) malam.
“Persiapan memang sudah mulai dibicarakan sejak beberapa waktu lalu, tetapi soal waktu dan tempat pelaksanaan masih belum diputuskan. Semua harus melalui musyawarah,” ujar Gus Yahya, sebagaimana keterangan yang diterima, Senin (5/1/2026).
Ia mengungkapkan bahwa antusiasme daerah untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU cukup besar. Beberapa wilayah telah menyatakan kesiapan, di antaranya Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, serta Jawa Timur. Selain itu, sejumlah pesantren besar juga mengajukan diri sebagai lokasi penyelenggaraan.
“Peminatnya banyak, termasuk dari Jawa Timur. Bahkan pesantren seperti Lirboyo dan Ploso juga berharap dapat menjadi tempat pelaksanaan muktamar,” katanya.









