JOMBANG, KabarJombang.com – Ribuan jamaah peserta Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) tiba di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (4/1/2025) malam. Meski diguyur hujan, para peserta tetap menuntaskan perjalanan panjang sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah lahirnya NU.
Kegiatan napak tilas ini dimulai sejak pagi hari dari Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan, Madura. Para peserta berjalan kaki sejauh sekitar 16 kilometer menuju Pelabuhan Kamal, kemudian menyeberang menggunakan perahu dan kapal feri menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Setibanya di Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan bus dan kereta api menuju Jombang. Dari Alun-alun Jombang, para peserta kembali berjalan kaki sejauh kurang lebih enam kilometer hingga tiba di Pesantren Tebuireng.
Napak tilas ini digelar dalam rangka memperingati satu abad Nahdlatul Ulama versi Masehi (1926–2026), sekaligus meneladani perjuangan para muassis NU dalam merintis dan menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, turut dikirab replika tongkat dan tasbih milik Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kirab dimulai dari Bangkalan hingga Jombang dan dibawa langsung oleh KH Azaim Ibrohimi, cucu KH As’ad Syamsul Arifin sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Replika tongkat dan tasbih tersebut kemudian diserahkan kepada Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Kirab ini merepresentasikan perjalanan historis KH As’ad Syamsul Arifin saat membawa isyarah dari Syaichona KH Cholil Bangkalan berupa tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari, yang menjadi salah satu cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama.
Salah satu peserta, Yeyed (41), asal Situbondo, mengungkapkan bahwa hujan dan jarak tempuh yang panjang tidak menyurutkan semangat jamaah.
“Ini napak tilas isyaroh berdirinya Nahdlatul Ulama. Rombongan kami dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Berangkat sejak pukul enam pagi dan berjalan kaki hingga Pelabuhan Kamal,” ujarnya.
Ia menyebut jumlah peserta dalam rombongan tersebut mencapai lebih dari seribu orang.
“Motivasinya karena cinta kepada NU dan para guru. Harapannya NU semakin jaya dan semakin kompak,” tambahnya.
Peserta lainnya, Ahmad Fauzi (26), juga asal Situbondo, mengaku telah menempuh perjalanan sekitar 24 kilometer dengan berjalan kaki.
“Dari Bangkalan jalan kaki ke Pelabuhan Kamal, naik kapal ke Surabaya, lanjut bus ke Jombang, lalu dari Alun-alun Jombang berjalan kaki sekitar enam kilometer ke Tebuireng,” terangnya.
Ia menegaskan perjalanan tersebut tidak terasa melelahkan, karena semangat napak tilas perjuangan NU jauh lebih besar dibandingkan rasa lelah fisik.
“Ini tidak seberapa dibandingkan perjuangan para pendahulu dan muassis NU dalam melawan penjajah,” katanya.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyambut baik kegiatan napak tilas tersebut. Ia berharap kegiatan ini membawa berkah besar bagi NU dan bangsa Indonesia.
“Mudah-mudahan ini menjadi berkah besar bagi kita semua, khususnya warga Nahdlatul Ulama dan lebih luas lagi bagi bangsa Indonesia. Dengan berkah ini, NU semakin kuat dan lestari dalam menyebarkan kemaslahatan bagi semua, bahkan bagi seluruh umat manusia,” tuturnya.
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menilai napak tilas ini penting sebagai momentum refleksi atas satu abad perjalanan NU.
“Banyak pesan dari para muassis NU yang harus terus kita kontekstualisasikan dengan perubahan zaman, agar NU tetap menjadi wadah yang menaungi umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.
Gus Kikin juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah dinamika organisasi yang besar.
“Dengan jumlah warga NU yang mencapai lebih dari 100 juta, konflik kadang sulit dihindari. Namun kebersamaan seperti ini menumbuhkan kesadaran bahwa persatuan dan ukhuwah sangat penting dan harus terus dijaga,” pungkasnya.









