Jokowi Batal Hadiri Panen Raya di Jombang

Dijen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, Anggota DPRD RI Komisi IV Suryo Alam dan Guntur Sasono, serta Bupati Jombang, Nyono Suharli secara simbolis melepas penanaman padi dengan alat mekanik. (FOTO: RIEF)
  • Whatsapp

SUMOBITO, (kabarjombang.com) – Panen raya padi di Desa Palrejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, akhirnya batal dihadiri Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi, Sabtu (19/3/2016). Panen raya tersebut, hanya dihadiri Dijen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Hasil Sembiring, Anggota DPRD RI Komisi IV Suryo Alam dan Guntur Sasono, serta Bupati Jombang, Nyono Suharli Wihandoko.

“Persiapannya maksimal, karena dijadwalkan Presiden Jokowi bisa hadir, tapi batal. Pun demikian Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga ada halangan. Jadi hanya Dirjen Tanaman Pangan yang hadir,” kata Rudi Priono, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.

Baca Juga

Rudi menjelaskan, konsep panen raya kali ini tidak hanya sekedar panen padi. Terdapat tiga tahap yang bisa dilakukan tanpa menunggu waktu lama, yakni tanam, panen, dan Sergap (serap gabah petani). Dan hal tersebut akan diterapkan kedepan. “Pasca panen, langsung dilakukan penanaman padi. Lantas hasil panen tersebut dibeli langsung oleh Bulog. Hal ini untuk memangkas adanya permainan harga padi di tingkat petani,” jelasnya.

Sementara Bupati Nyono Suharli mengatakan, rencananya panen raya tersebut akan dihadiri Presiden Jokowi. “Namun karena sesuatu hal, akhirnya tidak jadi. Pak Jokowi ada kegiatan peresmian jalan tol di Mojokerto,” ujar Bupati Nyono di lokasi panen raya Desa Palrejo.

Dalam panen raya tersebut, Hasil Sembiring bersama Suryo Alam dan Bupati Nyono tidak menggunakan sabit untuk memotong padi, namun menggunakan mesin. Begitu tiga mesin pemotong itu dijalankan di tengah sawah siap paneh, padi yang sebelumnya berdiri tegak, langsung roboh dan gabah masuk sak.

Pasca panen yang dilakukan secara simbolik, Bupati bersama Dirjen Tanaman Pangan juga melakukan penanaman padi secara simbolis. Penanaman tersebut juga menggunakan mesin mekanik. Terakhir Bulog melakukan pembelian hasil panen petani sesuai dengan HPP (harga pokok pembelian), yakni Rp 3.700 per kilogram.

“Alat mekanik ini bantuan dari pemerintah pusat untuk kelompok tani. Dengan mekanisasi, bisa mengirit biaya operasional petani hingga 15 persen. Jadi sangat membantu petani,” ujar Nyono.

Sementara anggota komisi IV DPR RI, Suryo Alam, meminta Bulog melakukan penyerapan gabah petani secara maksimal. Caranya, Bulog melakukan jemput bola ke petani yakni datang langsung ke sawah, sehingga harga jual gabah tetap sesuai dengan HPP.

“Jika Bulog melakukan jemput bola ke petani, maka petani tidak akan menjual hasil panennya ke tengkulak. Karena harga jual ke tengkulak, jauh dari HPP,” papar politisi Partai Golkar ini. (rief)

INSTAGRAM

Berita Terkait