MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Suasana belajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mojoagung, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, kini tampak berbeda. Ruang-ruang kelas Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 8 Jombang dipenuhi cahaya layar smart board, deretan laptop yang terbuka, serta wajah-wajah siswa yang fokus mengikuti pembelajaran.
Sekolah Rakyat bukan sekadar alternatif pendidikan, melainkan bagian dari kebijakan nasional yang diluncurkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Januari 2026. Program ini bertujuan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia, khususnya mereka yang membutuhkan dukungan lebih.
Sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah diresmikan secara serentak di 34 provinsi. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai 500 sekolah pada 2029 mendatang.
Di Kabupaten Jombang, implementasi program ini mulai menunjukkan dampak positif. Proses belajar mengajar berlangsung aktif dengan dukungan fasilitas modern serta sistem asrama yang tertata. Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kemandirian siswa.
Salah satu siswa yang merasakan manfaat tersebut adalah Zahra Nabilkis, siswi kelas X-B asal Kecamatan Kudu. Menurut Zahra, pengalaman belajar di Sekolah Rakyat sangat berbeda dibandingkan sekolah sebelumnya.
“Belajarnya lebih menyenangkan, tidak hanya duduk di kelas,” ujarnya.
Selain pembelajaran akademik, Zahra aktif mengikuti berbagai kegiatan non-pelajaran, mulai dari lomba paduan suara tingkat nasional, kesenian hadrah, hingga menulis cerita pendek. Beragam aktivitas itu membuat proses belajar terasa lebih berwarna dan bermakna.
Kehidupan asrama menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa. Jadwal harian disusun secara teratur, mencakup waktu belajar, ibadah, serta kegiatan bersama. Sistem kepengurusan asrama yang bergilir setiap tiga bulan memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk belajar memimpin.
“Semua siswa pasti pernah menjadi pengurus. Dari situ kami diajari tanggung jawab dan kepemimpinan,” kata Zahra.
Dari sisi fasilitas, Sekolah Rakyat Jombang terbilang lengkap. Ruang kelas dilengkapi teknologi pembelajaran digital, sementara asrama menyediakan tempat tidur, lemari, meja belajar, hingga mesin cuci untuk menunjang kebutuhan sehari-hari siswa.
“Yang paling saya suka itu belajar menggunakan laptop dan smart board,” tuturnya.
Meski nyaman tinggal di asrama, Zahra mengakui rasa rindu kepada keluarga tetap muncul. Namun, pihak sekolah memberikan kebijakan agar siswa tetap dapat menjaga komunikasi dengan orang tua. Sekolah menetapkan jadwal libur setiap dua bulan sekali bagi siswa yang menjaga kedisiplinan.
Selain itu, orang tua diperbolehkan menjenguk anaknya setiap akhir pekan. Bagi siswa yang belum sempat dikunjungi, pihak asrama menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi melalui telepon.
“Kalau orang tua tidak bisa datang, kami dipinjami handphone untuk menelepon. Biasanya hari Kamis atau Sabtu,” jelasnya.
Di Sekolah Rakyat Jombang, keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari nilai akademik. Siswa juga dibekali kemampuan hidup mandiri, bekerja sama, serta memahami lingkungan sekitar.
Dari ruang kelas hingga asrama, Sekolah Rakyat menjadi tempat tumbuhnya harapan bagi banyak anak, termasuk Zahra, yang perlahan menyusun masa depan selangkah demi selangkah.
“Saya sekolah di sini bukan untuk main-main. Saya ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain, orang tua, dan negara,” pungkas Zahra.









