JOMBANG, KabarJombang.com — Di sebuah rumah yang teduh di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, cahaya lampu belajar di sudut ruang tamu nyaris tak pernah benar-benar padam. Ketika sebagian orang telah beristirahat, seorang perempuan masih tekun menatap layar laptop dan lembar-lembar naskah.
Ia adalah Ni’matuz Zahroh, atau yang akrab dipanggil Anik, seorang guru Bahasa Inggris di MTsN 15 Jombang yang diam-diam telah menorehkan ratusan karya tulis dalam bentuk buku.
Di usianya yang ke-48 tahun, Anik menjadikan malam sebagai ruang kedua untuk berkarya, setelah seharian penuh mengajar dan mengurus berbagai persoalan administrasi di sekolah.
“Biasanya saya mulai menulis setelah jam tujuh malam. Kalau tidak ada kegiatan atau webinar, pasti saya luangkan waktu untuk menulis,” tuturnya saat ditemui pada Selasa (25/11/2025).
Kecintaan Anik terhadap dunia tulis-menulis ternyata telah ada jauh sebelum ia menjadi guru. Sejak duduk di bangku SMA, ia sudah terlibat sebagai redaktur majalah sekolah, pengalaman yang kemudian menjadi pijakan awal perjalanannya di dunia literasi.
Namun ritme menulisnya baru benar-benar menemukan bentuk ketika pandemi Covid-19 melanda. Di saat sebagian besar aktivitas terhenti, Anik justru memanfaatkan waktu untuk lebih produktif.
“Pandemi membawa hikmah buat saya. Di masa ketika semua orang harus diam, saya justru bisa menulis banyak naskah dan menerbitkan karya,” ujarnya.
Hingga kini, Anik telah menghasilkan sekitar 10 buku solo serta hampir 100 buku antologi. Meski begitu, ia menyebut jumlah tersebut masih jauh dari target karyanya ke depan.
Sebagian besar bukunya ber-genre fiksi, mulai dari novel hingga kumpulan cerpen. Salah satu karyanya yang terbit pada 2024 berjudul Dunia Dinar. Meski fokus pada fiksi, ia juga menulis buku nonfiksi tentang praktik baik pembelajaran di sekolah.
“Saya penulis fiksi, jadi yang paling banyak memang novel dan cerpen. Ada satu buku nonfiksi tentang pembelajaran, tapi tidak sebanyak yang fiksi,” jelas ibu tiga anak ini.
Baginya, menulis adalah cara paling sederhana untuk mengabadikan pengalaman. “Yang terucap bisa hilang. Yang tertulis akan abadi,” ucapnya mantap.
Aktivitas seorang guru masa kini tidak hanya mengajar di kelas. Ada administrasi, laporan, program sekolah, hingga kegiatan tambahan yang mengisi hampir sepanjang hari. Karena itu, Anik baru menemukan “ruang bernapas” untuk menulis ketika malam tiba.
Sejak pandemi, kebiasaan itu terus ia pertahankan. Sunyi malam justru menjadi lahan paling subur untuk melahirkan ide, tokoh, dan alur cerita baru.
“Walaupun lelah, menulis itu jadi energi. Saya merasa seperti menemukan diri saya sendiri ketika sedang menulis,” katanya.
Di momentum Hari Guru Nasional, Anik membawa pesan yang hangat dan penuh makna baik untuk rekan sejawat maupun murid-muridnya.
Untuk para guru, ia mengajak agar tetap berkarya di tengah berbagai tantangan profesi. “Kita bekerja bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan anak-anak bangsa,” ujarnya.
Sementara kepada para pelajar, ia mengingatkan pentingnya membaca sebagai jalan membuka dunia.
“Walaupun tidak pergi ke mana-mana, dengan membaca kalian bisa mengenal dunia. Dan jika kalian bukan anak pejabat atau jenderal maka menulislah. Dengan menulis, nama kalian bisa abadi,” pungkasnya.









