PLOSO, KabarJombang.com – Musim panen tembakau tahun ini menjadi masa yang penuh ujian bagi para petani di Kabupaten Jombang. Tidak hanya harus menghadapi harga jual yang anjlok, mereka juga dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga proses pengeringan tembakau tidak berjalan maksimal.
Sumarto (58), petani asal Dusun Banjarmlati, Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, mengaku kondisi tahun ini sangat berat. Sejak masa tanam, curah hujan tinggi sudah menjadi kendala utama.
“Dari awal tanam hujan terus, untungnya di sini tidak sampai banjir,” ujarnya, Senin, (6/10/2025).
Menurutnya, penurunan harga tembakau tahun ini mencapai lebih dari 30 persen. Untuk kualitas terbaik, harga hanya berkisar Rp40 ribu per kilogram, sementara kualitas sedang seperti miliknya hanya dihargai sekitar Rp22 ribu per kilogram. Padahal tahun lalu, dengan mutu yang sama, ia masih bisa menjual hingga Rp38 ribu per kilogram.
Akibatnya, pendapatan petani turun drastis. Dari lahan seluas 300 ru, tahun lalu Sumarto mampu memperoleh sekitar Rp50.000.000. Namun, tahun ini ia memperkirakan hasilnya tidak akan mencapai separuh.
“Harapannya masih ada daun bagian atas yang bisa bagus dan laku tinggi,” tuturnya.
Kondisi diperparah dengan cuaca mendung yang terus berlangsung di masa panen. Panas matahari yang dibutuhkan untuk mengeringkan daun tembakau tidak muncul maksimal.
“Kalau panasnya tidak terik, penjemurannya bisa dua minggu belum tentu kering,” ungkapnya.
Para petani di wilayah Ploso umumnya menggunakan metode janturan, yakni menjemur daun tembakau dalam keadaan utuh yang digantung hingga kering. Dalam kondisi normal, proses ini memakan waktu sekitar sepuluh hari. Namun, dengan cuaca lembap, proses pengeringan bisa berlarut-larut dan menurunkan mutu hasil panen.
“Kalau tidak kering sempurna, bisa muncul flek dan warna daun jadi jelek, harganya pun jatuh,” tambahnya.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menunjukkan, tingkat produksi tembakau tahun ini menurun tajam. Rata-rata hanya 62 persen dari total lahan tanam yang berhasil dipanen. Kecamatan Ploso menjadi wilayah terdampak paling parah, di mana dari 1.347 hektare lahan hanya sekitar 336 hektare atau seperempatnya yang dapat dipanen.
Sementara itu, Kecamatan Plandaan mencatat hasil lebih baik dengan tingkat panen mencapai 80 persen dari 774 hektare lahan. Di Kecamatan Ngusikan, 83 persen lahan berhasil dipanen, sedangkan Kecamatan Kabuh yang memiliki lahan terluas hanya mampu memanen sekitar 40 persen. Adapun Kecamatan Kudu masih relatif stabil dengan hasil panen mencapai 82 persen.









