Kekurangan Air, Ratusan Hektar Padi Petani di Jombang Terancam Gagal Panen

  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Tidak adanya pasokan air selama hampir satu bulan, membuat tanaman padi di wilayah Kecamatan Gudo terancam gagal panen. Dari data yang berhasil diperoleh, luasan lahan pertanian di wilayah tadi mencapai luasan 350 hektar. Ratusan hektar sawah tadi masing-masing berada di Desa Bugasur Kedaleman, Pucangro, Sukoiber, Kedungturi, Sukopinggir, serta Desa Gudo.

Pantauan di lokasi, selain nampak tumbuh kembang tanaman padi petani yang terhambat kendati rata-rata berumur 45 hingga 60 hari. Rekahan / retakan tanah sawah terlihat cukup lebar, yang menandakan pasokan air irigasi sangat kurang.

Baca Juga

“Untuk luasan lahan pertanian yang saat ini ditanami padi, kurang lebih 350 hektar. Dan seperti yang bisa dilihat, kondisinya sudah sangat meprihatinkan,” papar perwakilan petani Kecamatan Gudo, Soni Setianto, Minggu,(8/10/2023).

Dijelaskan olehnya, kondisi meprihatinkan tadi yakni terhambatnya tumbuh kembang padi. Jika dalam kondisi normal, saat ini sudah memasuki tahapan vegetatif (njebul,jawa). Proses sendiri ditandai dengan mulai tumbuhnya biji-biji padi muda. “Tahapan saat ini jika dalam tahapan normal, padi mulai njebul. Tapi seperti yang dapat kita lihat, justru pertumbuhannya terhambat,” jelasnya.

Dengan dihantui kekeringan, lanjutnya, petani di Kecamatan Gudo diberikan pilihan sulit. Berupa membiarkan tanaman mereka mati, atau berusaha maksimal dengan menggunakan diesel air. “Jujur petani saat ini diberikan pilihan sulit, dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Membiarkan tanaman mati, atau berupaya maksimal menggunakan diesel air,” lanjut pria yang juga Kepala Desa (Kades) Pesanggrahan itu.

Lebih rinci perihal pilihan sulit tadi, biaya yang harus dikeluarkan petani untuk mengaliri lahan mereka. Padahal, untuk sampai di tahap sekarang mereka sudah mengeluarkan uang 3,5 juta.

“Dari mulai tahap pra tanam hingga saat ini, petani sudah mengeluarkan biaya 3,5 juta per 100 ru atau setara dengan 1.400 meter. Untuk mempertahankan tanaman mereka tetap hidup, kini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk diesel air,” rincinya.

Besaran biaya tadi, yaitu untuk 24 jam diesel air memerlukan bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp. 160.000,. Irgasi buatan tadi harus dilakukan, minimal 2 hari sekali. “Jadi dalam satu bulan ini kami sudah mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2,4 juta. Dengan catatan kebutuhan tenaga dilakukan oleh yang bersangkutan, sebab kalau menyuruh orang lain sudah tentu ada biaya tambahan,” tegasnya.

Kondisi tidak adanya pasokan air sudah tentu disayangkan oleh ratusan petani. Sebab untuk Kecamatan Gudo, lumbung padi-nya ada di wilayah dimaksud. Ditakutkan olehnya, apabila dalam satu pekan ke depan tidak kunjung ada irigasi. Dipastikan tanaman padi milik petani mati, dan terancam gagal panen.

“Sangat disayangkan jika sampai tidak ada perhatian, karena lumbung padi di Kecamatan Gudo ada di wilayah ini. Kalau sampai pekan depan tidak ada air irigasi masuk, dipastikan tanaman padi mati dan terjadi gagal panen,” pungkas Soni.

Masih di lokasi yang sama, Sriatun (52), petani Dusun Kedaleman, Desa Bugasur Kedaleman mengaku jika ia harus turun sendiri untuk mengairi tanaman padi miliknya. “Saya kerjakan sendiri, karena jika menggunakan jasa buruh tentu biayanya lebih besar,” tuturnya sembari membetulkan selang sawah berbahan plastik.

Ia pun mengaku, sejak memulai pagi hingga menjelang tengah hari baru setengah lahan miliknya dapat dialiri air. “Tadi mulai pagi hari menyalakan diesel, baru dapat separuh. Untuk merampungkan keseluruhan lahan, bisa dipastikan hingga malam hari,” tandasnya.

Hal serupa disampaikan oleh Sutrisno (52), yang mengaku sudah angkat tangan apabila harus terus-terusan menunggu diesel air. Terlebih, dari mulai dihentikannya pasokan air hingga saat ini tidak ada pemberitahuan sama sekali. “Kalau harus terus-terusan, saya sudah angkat tangan. Yang kami sayangkan sejak dihentikannya pasokan sampai saat ini, tidak ada pemberitahuan terlebih dulu,” tutupnya.

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait