Harga Tomat di Jombang Anjlok hingga Rp 2.000 Per Kilogram, Petani Alami Kerugian Saat Musim Panen Raya

Foto: Muhaimin selaku petani tomat sedang memanen tomat dari kebun miliknya untuk dijual ke pasar. (Istimewa/Kabar Jombang).
  • Whatsapp

PERAK, KabarJombang.com – Harga tomat di Kabupaten Jombang, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Harga yang semula mencapai Rp 20.000 per kilogram, kini di tingkat petani hanya sekitar Rp2.000 per kilogram. Kondisi ini menyebabkan petani merugi, meski sedang berada pada puncak musim panen.

Seperti yang dialami petani tomat di Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Para petani mengeluhkan harga jual yang jauh di bawah biaya produksi.

Baca Juga

“Harga tomat saat ini jatuh. Minggu lalu masih Rp4.000 per kilogram, sekarang paling tinggi hanya Rp2.000. Padahal sebelumnya bisa mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000. Sementara itu, biaya pupuk dan obat-obatan semakin mahal sehingga keuntungan sangat tipis,” ujar Muhaimin, petani asal Desa Glagahan, Minggu (17/8/2025).

Menurut Muhaimin, anjloknya harga tomat dipicu oleh melimpahnya pasokan akibat panen serentak di sejumlah sentra produksi tomat di Jawa Timur, seperti Mojokerto, Kediri, dan Malang.

“Banyak daerah yang sudah panen bersamaan, sehingga harga di pasar langsung turun. Permintaan tidak sebanding dengan jumlah pasokan,” jelasnya.

Muhaimin mengeluarkan biaya produksi sekitar Rp12.000.000, untuk mengelola lahan seluas 1.400 meter persegi, mulai dari pembibitan, pemupukan, hingga perawatan intensif menghadapi serangan hama. Dengan hasil panen sekitar 1,2 hingga 1,3 ton, harga jual yang rendah membuat petani kesulitan menutup modal.

“Panennya bagus, tetapi harganya rendah. Hari ini saya coba menjual ke Pasar Nganjuk, semoga bisa mendapat harga yang lebih baik,” tambahnya.

Selain persoalan harga, petani juga menghadapi serangan hama, antara lain kutu trips dan penyakit kresek. Kondisi tersebut mengharuskan petani melakukan perawatan rutin melalui penyemprotan agar tanaman tetap produktif hingga masa panen.

“Perawatannya cukup berat karena hama terus menyerang. Namun, penyemprotan harus dilakukan secara rutin agar tanaman tidak rusak,” pungkasnya.

Berita Terkait