Harga Tembakau Kering di Jombang Turun Jadi Rp 37 Ribu, Masih Terbilang Stabil?

Foto: Salah satu petani tembakau di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. (Istimewa/Kabar Jombang).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Fenomena kemarau basah mulai berdampak pada kualitas dan harga tembakau di Kabupaten Jombang. Meski harga jual tembakau mengalami penurunan, Dinas Pertanian setempat menilai kondisi pasar masih stabil dan stok di tingkat petani mulai menipis.

Sedangkan, harga tembakau di Kabupaten Jombang dilaporkan mengalami sedikit penurunan. Harga jual tembakau kering yang sebelumnya mencapai Rp 40.000, kini turun menjadi sekitar Rp 37.000.

Baca Juga

Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang, Lasiman membenarkan adanya penurunan tersebut. Penurunan harga tembakau basah turut mengalami penurunan.

“Harga jual tembakau kering yang semula Rp40.000, sekarang turun jadi sekitar Rp37.000, sedangkan harga tembakau basah dari Rp4.000 menjadi Rp2.800,” ujarnya, Jumat (10/10/2025) ketika dihubungi lewat telepon.

Sedangkan, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menilai harga di tingkat petani masih tergolong stabil. Berbanding terbalik dengan APTI Jombang yang menjelaskan harga jual tembakau mengalami penurunan.

Kepala Dinas Pertanian Jombang, M. Rony, menyebutkan harga daun basah masih berada di kisaran Rp 5.000 per kilogram.

“Secara harga masih bagus, daun basah masih di kisaran Rp5.000 per kilogram. Hanya saja terdapat penurunan kualitas daun karena pengaruh curah hujan di musim kemarau ini,” jelasnya, ketika dihubungi melalui pesan telepon, Jumat (10/10/2025).

Ia turut menjelaskan persoalan kebijakan pemberian asuransi kepada para petani tembakau yang mengalami gagal panen. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat. Saat ini, aturan yang berlaku baru mencakup tanaman padi, belum untuk komoditas tembakau.

“Terkait asuransi pertanian itu kewenangan pusat, dan aturan yang ada baru untuk tanaman padi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah mengimbau petani melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan media sosial agar menyesuaikan komoditas tanam ketika menghadapi fenomena kemarau basah.

“Petani disarankan menanam palawija sebagai alternatif selain tembakau,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, petani diarahkan memperbaiki sistem drainase dengan membuat parit lebih dalam, sekitar 40–50 sentimeter, agar air tidak menggenangi lahan.

Ia menyampaikan, pada Maret mendatang Pemkab Jombang bersama APTI akan menggelar acara tanam perdana tembakau di Desa Wadung, Kecamatan Kabuh. Dalam acara itu, pihaknya berencana menghadirkan Kepala BMKG Malang untuk menjelaskan lebih lanjut soal fenomena kemarau basah.

Sementara itu, Sekretaris HKTI Kabupaten Jombang, Hasan Sholahudin berharap, ke depan pemerintah dapat menghadirkan program pertanian terpadu yang tidak hanya berfokus pada hasil panen, melainkan juga memberikan perlindungan terhadap risiko kerugian petani.

“Asuransi pertanian dapat menjadi penyelamat saat gagal panen. Namun jika panen berhasil, pemerintah juga harus memfasilitasi distribusi agar harga tetap stabil,” tegasnya.

Berita Terkait