KESAMBEN, KabarJombang.com – Petani kedelai di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, tengah menghadapi masa sulit. Hasil panen mereka menurun drastis akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Memasuki musim penghujan, produktivitas tanaman kedelai menurun signifikan. Kondisi itu diperparah dengan harga jual yang anjlok di pasaran.
Miskun, salah satu petani asal Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben, Jombang, mengaku pasrah dengan hasil panen kali ini. Meski hasilnya jauh dari harapan, ia tetap bersyukur karena masih dapat menutup biaya produksi.
“Menjelang panen harga kedelai turun kisaran Rp6.000, biasanya bisa sampai Rp14.000. Panen kali ini saya rasa cukup untuk biaya, daripada sawah tidak saya tanami,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, biaya produksi untuk sekali tanam cukup tinggi, mulai dari bibit hingga tenaga kerja.
“Untuk biaya tanam mulai bibit dan tenaga kerjanya kisaran Rp1,5 juta. Biaya panen juga tinggi. Kalau untung belum tahu, karena baru dipanen dan hasilnya berapa juga belum tahu,” tambahnya.
Para petani menyebut cuaca ekstrem menyebabkan dua persoalan utama pada tanaman kedelai, antara lain gagal buah dan serangan penyakit.
Suhu panas yang berubah tiba-tiba membuat bunga rontok dan polong tidak terisi sempurna, sedangkan curah hujan tinggi memicu penyakit jamur seperti karat daun.
“Kedelai ini tanaman yang tergolong manja. Kalau kelebihan hujan, akarnya busuk. Kalau kepanasan, bunganya rontok. Cuaca ekstrem Jombang ini benar-benar ujian buat para petani kedelai,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kesamben, Anasrul Hakim, membenarkan bahwa perubahan cuaca berdampak langsung terhadap produktivitas kedelai. Ia menyebut Kecamatan Kesamben memiliki potensi pertanian kedelai cukup besar.
“Kecamatan Kesamben terdapat pola tanam padi-padi-bero atau padi-padi-kedelai. Dari total 4.125 hektar lahan, sekitar 1.300 hektar merupakan lahan bero yang biasanya ditanami kedelai atau jagung,” paparnya.
Namun, program Optimalisasi Lahan (OPLAH) tahun ini harus berhadapan dengan fenomena kemarau basah dan cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi yang menyebabkan tanah terlalu lembab.
“Ada yang tetap menanam kedelai, tapi karena terlalu banyak kandungan air, kualitas bijinya tidak bisa maksimal. Meski begitu, kami berharap harga kedelai bisa membantu menutup kerugian petani,” ujarnya.
Desa Podoroto, dari 9 hektar lahan kedelai yang mulai dipanen, hasilnya menurun cukup signifikan.
“Estimasi lahan 1.400 meter persegi hanya menghasilkan sekitar 4 kuintal. Dibandingkan panen tahun lalu, hasilnya jauh menurun,” pungkasnya.









