Cuaca Buruk dan Pasar Lesu, Petani Tembakau di Kabuh Jombang Terjepit Kerugian

Foto : Petani tembakau di Jombang saat menata hasil panennya. (Istimewa)
  • Whatsapp

KABUH, KabarJombang.com – Musim panen tembakau yang biasanya menjadi harapan besar bagi petani di wilayah utara Sungai Brantas, Jombang, tahun ini berubah menjadi mimpi buruk. Cuaca tak bersahabat dan anjloknya harga jual membuat banyak petani merugi hingga puluhan juta rupiah.

Hasil panen tahun ini tidak hanya menurun drastis, tetapi juga sulit dipasarkan. Para petani mengeluhkan harga beli dari pengepul yang sangat rendah, bahkan terendah dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga

Riono, petani asal Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, mengaku hasil panen tembakaunya kali ini jauh dari harapan. Daun tembakau jenis jinten yang biasanya menjadi andalan, kini hanya dihargai Rp 3.000 per kilogram.

“Biasanya bisa Rp 4.500 sampai Rp 5.000 per kilo, sekarang anjlok sekali. Itu pun kadang susah laku karena perajang juga banyak yang tutup,” kata Riono, Rabu (24/9/2025).

Tak hanya harga, kualitas hasil panen pun menurun akibat curah hujan yang tinggi selama masa tanam. Hal ini menyebabkan banyak tanaman tembakau gagal tumbuh optimal dan menghasilkan rendemen rendah.

Hal serupa dirasakan Ahmad Mulyono, petani dari Dusun Waru, Desa Made, Kecamatan Kudu. Ia mengungkapkan bahwa lebih dari separuh tanaman tembakaunya rusak karena hujan terus-menerus yang mengguyur selama beberapa minggu terakhir.

“Kalau tahun kemarin bisa dapat untung sampai Rp 10 juta dari lahan seluas 150 ru, sekarang cuma Rp 3 juta. Banyak yang gagal panen, hasilnya sedikit, harganya jatuh pula,” ujarnya.

Menurutnya, harga tembakau jenis rejeb tahun ini hanya mencapai Rp 3.000 per kilogram, sedangkan jinten bahkan lebih rendah, sekitar Rp 2.500. Selain rendahnya harga, minimnya pembeli juga menjadi tantangan tersendiri.

“Bakul (pengepul) juga ogah ambil karena katanya rendemennya kecil. Jadi makin susah dijual,” ungkap Mulyono.

Berita Terkait