NGORO, KabarJombang.com — Budidaya melon dengan sistem greenhouse mulai berkembang di Dusun Santren, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Salah satu petani yang mengembangkan metode ini adalah Khusnul Yakin (44), yang menanam melon premium jenis Intanon di lahan greenhouse seluas 500 meter persegi.
Dengan populasi mencapai 1.250 batang, budidaya melon greenhouse membutuhkan waktu antara 80 hingga 90 hari untuk satu kali panen. Namun, pada musim tanam kali ini, hasil panen turun dari target semula 2 ton, menjadi hanya 1,2 ton. Penurunan hasil ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang ekstrem, khususnya suhu panas yang berlebihan saat fase pembesaran buah.
“Waktu pembesaran buah itu paling rentan. Kalau suhu terlalu panas, pertumbuhan buah jadi tidak maksimal,” jelas Yakin saat ditemui di greenhouse miliknya.
Menurut Yakin, perbedaan utama antara melon greenhouse dan melon konvensional terletak pada kualitas benih. Benih melon konvensional umumnya mengandung antivirus karena ditanam di lahan terbuka yang lebih rentan terhadap hama dan penyakit.
“Kalau melon premium untuk greenhouse, benihnya justru tidak antivirus. Karena ditanam di lingkungan tertutup yang minim Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),” ujarnya.
Sistem greenhouse juga memungkinkan petani meminimalkan risiko serangan hama dan penggunaan pestisida, sehingga kualitas buah bisa lebih terjaga.
Menghadapi cuaca panas yang menghambat pembesaran buah, para petani greenhouse melakukan upaya antisipasi seperti penambahan asam amino dan mono kalium phosphate yang disemprotkan ke tanaman untuk membantu pembentukan buah secara optimal.
Proses panen dilakukan dengan seleksi ketat. Buah disortir berdasarkan bentuk, berat, dan kadar gula. Untuk melon kategori premium (Grade A), kadar gula minimal harus mencapai 14 brik. Jika tidak memenuhi standar tersebut, melon diklasifikasikan sebagai Grade B atau lebih rendah.
“Kita lakukan pengecekan sebelum panen. Yang pasti dicek kadar gulanya, minimal harus 14 brik,” tegasnya.
Pemasaran melon premium ini dilakukan dengan sistem pre-order (PO) sejak awal masa tanam. Harga jual ke supplier atau tengkulak mencapai Rp 18 ribu per kilogram, menyesuaikan dengan kualitas dan ukuran buah.
Meski hasil panen kali ini belum mencapai target, Yakin menyebut budidaya melon sistem greenhouse tetap prospektif karena mengutamakan kualitas dan menjanjikan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
Melon premium dari greenhouse ini juga mendapat respons positif dari pembeli. Salah satunya Dhika Lailatul (24), warga Kecamatan Jogoroto, Jombang yang rutin membeli melon dari petani greenhouse.
“Rasanya manis dan teksturnya renyah. Nggak cuma tampilannya bagus, tapi isinya juga enak. Biasanya saya beli untuk konsumsi sendiri,” kata Dhika usai membeli melon premium.
Menurutya, meskipun harganya sedikit lebih mahal dibanding melon biasa, kualitas dan rasa buah sebanding dengan harga yang dibayarkan.









