Program Makan Bergizi Jadi Motor Ekonomi Desa, Bumdes Sumobito Jombang Raup Ratusan Juta Rupiah per Bulan

Foto : Kementrian Kordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat saat mengunjungi salah satu SPPG di Jombang. (Istimewa)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Inisiatif pemberian makanan bergizi kepada santri tak hanya bermanfaat dari sisi kesehatan, tetapi juga terbukti mampu menggairahkan perekonomian lokal. Di Jombang, program ini bahkan telah menggerakkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan koperasi dengan transaksi mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Lewat kerja sama antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan Bumdesma Sumobito Lancar Abadi, kebutuhan konsumsi ribuan santri di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar kini dipenuhi secara mandiri oleh pelaku usaha desa.

Baca Juga

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) Abdul Haris, mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan hasil dorongan langsung dari Menko PM Muhaimin Iskandar sejak akhir 2024 lalu. Menurutnya, skema kemitraan antara pesantren, Bumdes, dan SPPG telah menunjukkan hasil yang sangat positif.

“Program ini bukan hanya tentang makanan sehat. Kami melihat ada potensi ekonomi desa yang ikut tumbuh. Transaksi antara Bumdes dan SPPG kini menyentuh angka Rp 600 juta per bulan,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke Denanyar, Kamis (17/7/2025).

SPPG Mambaul Ma’arif sendiri saat ini melayani lebih dari 3.300 santri yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan. Jumlah tersebut masih akan terus meningkat, seiring rencana pembukaan unit SPPG baru yang juga akan dikelola oleh pihak pondok pesantren.

Tak hanya menggerakkan ekonomi, program ini juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Sebanyak 47 orang kini terlibat langsung dalam kegiatan operasional SPPG, dengan pendapatan harian yang cukup kompetitif. Selain itu, posisi profesional seperti ahli gizi dan staf administrasi juga direkrut dengan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya terkait kualitas bahan pangan yang disuplai. Bumdesma Sumobito mengakui masih harus terus meningkatkan mutu produk lokal agar sesuai dengan standar makanan bergizi untuk santri.

“Kami masih dalam tahap pembenahan. Tapi mulai Juni 2025, kami juga sudah dipercaya memasok ke SPPG lain di wilayah Sumobito,” ujar Ayu, salah satu pengurus Bumdesma.

Model kolaborasi ini dinilai sebagai solusi konkret dalam membangun kemandirian ekonomi desa. Lewat sinergi antara pesantren, lembaga gizi, dan usaha desa, potensi lokal bisa dioptimalkan tanpa harus bergantung penuh pada pasokan luar daerah.

“Ke depan, Kemenko PMK berencana memperluas skema ini ke daerah lain agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas, sekaligus menjadi bagian dari strategi pemberdayaan desa berbasis komunitas,” pungkasnya.

 

Berita Terkait