Lapaknya Sepi Pembeli, Pedagang Kebon Rojo Jombang Curhat

 Kawasan Kebon Rojo Jombang. (Daniel Eko) .
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com –  Setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Jombang diperpanjang. Sejumlah pedagang harus menelan rasa pahit.

Sejak April 2020 aktivitas perdagangan masyarakat terguncang bak badai besar. Kegiatan ekonomi lumpuh dan pendapatan berkurang drastis.

Baca Juga

Setelah melonggarnya jam malam di Wilayah Jombang Kota. Kini hadir PPKM Mikro yang menghantui para pedagang. Sebab PPKM Mikro ini dinilai menjadi faktor utama sepinya pelanggan.

Sudah jatuh tertimpa tangga, berlakunya PPKM Mikro ditambah musim penghujan. Semakin membuat melas hati pedagang, mereka hanya bisa pasrah.

Seperti yang dilami Utami (58) pedagang asal Kaliwungu,  Jombang, merasakan dampak adanya virus corona sangat hebat. Pekerjaan sehari-harinya sempat terhenti 2,5 bulan ketika awal pandemi.

Kini Utami telah memulai bekerja kembali, setiap pagi pukul 06.00 WIB dirinya membuka lapak minuman di standnya. Hanya saja tak seperti sedia kala yang tutup hingga malam hari, kini usai salat Maghrib Utami menutup lapaknya.

“Habis Mahgrib saya sudah pulang, tidak menunggu sampai jam 8 atau 9 malam. Kemarin itu lampu depan mati, lalu siapa yang mau masuk,”keluhnya.

Ceritanya, ketika siang hari pengunjung Kebon Rojo tak sepadat biasanya. Terlebih malam hari tak ada satupun pengunjung yang datang. Sehingga para pedagang Kebon Rojo kompak menutup lapak usai salat Maghrib.

“Saat ini ‘sepi mampring’ apalagi kalau malam jalan ditutup. Belum lagi siang jam 10 sudah hujan. Kalaupun ada pelanggan pesan secangkir kopi saja,” katanya.

Penjualan per hari dikatakanya rata-rata hanya Rp 75 ribu. Sedangkan jika Sabtu atau Minggu penjualan paling banyak Rp 100 hingga Rp 150 ribu.

Dikatakan saat ini banyak lapak pedagang yang kosong. Dari sebanyak 55 lapak yang terisi hanya sekitar 25 lapak. Sebab pedagang lainnya memilih berjualan dilain tempat atau mendorong gerobak.

“Bantuan pedagang, saya juga tidak mendapatkan apa-apa. Disyukuri saja, yang penting telaten dan diberikan kesehatan. Supaya bisa makan buat sehari-hari,” tambah nenek tua yang baru saja ditinggal suaminya meninggal.

Dikatakan,  alasan tetap bertahan di Kebon Rojo karena tak mau mengambil resiko berjualan dengan gerobak. Ditambah usianya yang renta tak kuasa untuk jualan keliling.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait