MOJOWARNO, KabarJombang.com – Jembatan penghubung antar desa dan kecamatan di Dusun Kempreng, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, tidak lagi bisa dilalui setelah bagian abutmennya ambrol akibat tergerus arus sungai, Senin (16/2/2026). Insiden tersebut menyebabkan akses warga terputus total.
Kepala Desa Latsari, Muslikan, menjelaskan kerusakan terjadi pada pagi hari saat debit air meningkat tajam usai hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak dini hari. Derasnya aliran air mengikis penahan jembatan hingga akhirnya jebol dan menyisakantelah mengikuti lubang besar.
Menurutnya, bagian yang rusak kali ini berada di sisi utara jembatan. Sebelumnya, abutmen di sisi selatan juga sempat mengalami kerusakan serupa dan baru saja selesai diperbaiki sekitar sepekan lalu.
“Yang selatan sudah diperbaiki, sekarang gantian sisi utara yang ambrol,” ujarnya.
Ia menambahkan, usia jembatan yang sudah cukup tua menjadi salah satu faktor penyebab rapuhnya konstruksi. Berdasarkan informasi yang ia ketahui, jembatan tersebut dibangun sekitar tahun 1950-an sehingga secara struktur memang sudah mengalami penurunan kualitas.
Akibat kerusakan tersebut, lubang yang cukup besar membuat jembatan berisiko tinggi untuk dilintasi kendaraan. Pemerintah desa pun memutuskan menutup total akses demi keselamatan pengguna jalan.
Penutupan ini berdampak pada mobilitas warga. Pasalnya, jembatan tersebut merupakan jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, dengan Desa Tebel, Kecamatan Bareng. Jalur itu selama ini menjadi alternatif tercepat menuju wilayah Bareng maupun Ngoro.
Selain itu, jalan tersebut juga menjadi penghubung utama antara Dusun Kempreng dan Dusun Guwo. Dengan ditutupnya jembatan, warga terpaksa mengambil rute memutar yang jaraknya lebih jauh untuk beraktivitas, termasuk menuju balai desa.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jombang, Imam Bustomi, membenarkan kerusakan tersebut. Ia menyebut abutmen di sisi berlawanan yang sebelumnya rusak kini telah diperbaiki, namun bagian lainnya justru mengalami penggerusan akibat derasnya aliran air.
Ia memperkirakan proses perbaikan kali ini tidak bisa dilakukan secara darurat. Berbeda dengan kerusakan sebelumnya, kondisi terbaru dinilai membutuhkan penanganan permanen sehingga memerlukan waktu lebih lama.
“Untuk sementara jalur ditutup karena tidak memungkinkan diperbaiki secara darurat. Kami akan mengkaji langkah penanganan yang tepat agar perbaikannya bisa maksimal,” tandasnya.








