Pasien Sembuh Covid-19 Asal Pandanwangi, Khatam Al-Quran Belasan Kali Selama Isolasi

A Haris saat diwawancarai di depan kediamannya oleh jurnalis KabarJombang.com (Kelompok Faktual Media).
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Menjadi ketua kloter haji Jombang adalah impian banyak orang. Tugas ini mulia dipandang dari agama maupun negara. Itu juga yang dirasakan Abdul Haris saat diberikan amanat tersebut.

Ia begitu semangat saat diminta berangkat ke asrama haji Sukolilo Surabaya, untuk mengikuti pelatihan pembimbing haji pada tanggal 9-18 Maret 2020. Namun, siapa kira tugas mulia itu menjadi awal kisah panjangnya terinfeksi virus Corona.

Baca Juga

Tugasnya ini adalah ketiga kalinya bagi alumni Pesantren Tebuireng ini. Ia bertanggung jawab atas nasib satu pesawat jamaah haji dari Jombang. Ia yang menandatangi berkas pemberangkatan dan kedatangan jamaah haji ini.

“Pak dokter bilang ke saya, sampean ini dalam tugas mulia. Hanya saja, Tuhan lagi menguji untuk meningkatkan derajat. Setelah selesai acara tidak ada gejala apa-apa, hingga tanggal 25 Maret 2020. Dipantau terus oleh tim kesehatan dari Puskesmas Brambang,” katanya, kepada KabarJombang.com, Jumat (26/6/2020).

Ia menjelaskan, pada tanggal 2 April 2020 ia dirapid test dan hasilnya non reaktif. Kemudian tanggal 8 April 2020 dilakukan tes Swab. Hasilnya, baru dikabari dokter Wahyu pada 14 April 2020 dengan hasil bahwa Abdul Haris positif Covid-19.

Pada tanggal 15 April 2020 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang menggelar rapat terkait masalah Haris. Dan diputuskan pada tanggal 16 April 2020, Abdul Haris harus menjalani isolasi di RSUD Jombang.

Selama diisolasi, hari-hari Haris ditemani dengan lantunan ayat Al-Quran dan zikir kepada Allah SWT. Sikap pasrah pada Sang Maha Kuasa, menambah keyakinannya jika sakit ini akan sembuh. “Saya berangkat sendiri ke RSUD Jombang untuk isolasi, setelah ada surat permintaan dari Pemkab Jombang,” tambahnya.

Setelah resmi menyandang status positif Covid 19, kebiasaan Haris berubah total. Ia tak bisa lagi main badminton bersama rekan-rekanannya, dan istirahat total dari mengurusi madrasah.

Banyak yang kaget dengan status tersebut. Tak jarang juga masyarakat sekitar dan rekan-rekan kerjanya, menjauh. Namun, ia berpikir hal itu karena kurangnya informasi yang benar kepada masyarakat.

Pada tanggal 28 April 2020 Haris menjalani tes swab dengan hasil negatif dan diperbolehkan isolasi mandiri, karena perkembangan baik. Namun, surat resminya izin isolasi mandiri diberikan dr Puji Umbaran pada 2 Mei 2020.

Selanjutnya tanggal 15 Mei 2020 hasil Swab baru keluar lagi, satu negatif dan satunya tidak terbaca (invalid). Akhirnya di-Swab kembali tanggal 15-16 Mei 2020. “Hasilnya baru keluar pada 31 Mei 2020 dan dinyatakan sembuh total,” ungkapnya.

Selama diisolasi, Haris mematikan handphonenya agar bisa tenang. Sehingga saat kembali bekerja, banyak yang menunggu ceritanya. Banyak temannya yang masih salah informasi terkait Covid-19.

Ia jelaskan kepada teman-temannya agar tidak takut lagi pada pasien sembuh. Karena sudah teruji secara ilmiah. Sebab, sebagian ada masyarakat yang kabur saat bertemu dengannya. “Karena edukasinya kurang, ketakutan tidak perlu luar biasa. Virus ini tidak terbang kemana-mana. Yang penting cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak,” pesan Haris.

Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 13 Perak, Jombang ini mengatakan, awal-awal dikabari positif Covid-19 juga mengalami kegoncangan luar biasa. Namun, ia segara memperkuat dirinya dan berdoa pada Allah SWT. Ia lalu bernazar atau berjanji kepada Allah, jika sembuh maka akan mendarmakan bakti dan mewakafkan diri untuk Al-Quran.

“Saya nazar, jika sehat maka sisa hidup saya tak wakafkan dan habiskan untuk Al-Quran saja. Ini berat tapi saya sudah bulat tekadnya,” paparnya.

Haris menceritakan, ia memang mencintai Al-Quran sejak kecil. Kecintaan itu bertambah saat tahun 1982, ia belajar di Pesantren Tebuireng. Bertambah lagi, pada tahun 1991 mulai mengajar di Tebuireng. Mata pelajaran favoritnya yaitu Quran-Hadits.

Pada hari biasa, dalam sehari Haris bisa mengaji Al-Quran satu juz, kadang bisa khatam dua kali sebulan. Namun selama isolasi Covid 19, ia bisa khatam 11 kali.

“Saya mengadu kepada Allah terus. Allah menciptakan penyakit dan Allah juga menyembuhkan. Saya dari dulu memang mengajar Al-Quran Hadits,” tambah warga Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Jombang ini.

Ia berpesan kepada masyarakat untuk tak meremehkan protokoler kesehatan yang dibuat pemerintah. Apalagi obat virus ini belum ditemukan. Cara terbaik yaitu menenangkan pikiran dan hati agar imun tubuh naik sehingga obat dari dokter segera beraksi.

Haris merasa bersyukur keluarga dan rekan-rekan terdekatnya selalu hadir dalam menemani melawan Covid-19. Di antaranya Pengasuh Pesantren Sunan Ampel, KH Taufiq, yang datang memberi jamu khusus kepadanya.

“Pokoknya selama masyarakat ikut protokoler kesehatan masyarakat maka aman. Karena obat khusus belum ada. Saya juga edukasi ke teman-teman agar tak takut berlebihan,” tandasnya Haris.

Reporter: Syarif Abdurrahman (Solid), Slamet Wiyoto, Beny Hendro

INSTAGRAM

Berita Terkait