Pandemi Tak Buramkan Indahnya Bisnis Karya Lukis dan Kaligrafi di Jombang

Yusuf saat berada di galeri lukisannya Jalan Hayam Wuruk Jombang.
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Diterpa badai wabah Covid-19, rupanya tak membuat optimisme Yusuf (35) pebisnis lukisan dan kaligrafi di Jalan Hayam Wuruk, Jombang ini, luntur. Ia tetap bergeming menggeluti bisnis yang dirintisnya 20 tahun silam ini, lantaran masih dianggapnya menjanjikan.

Yusuf mengaku omzet penjualan lukisan dan kaligrafi di galerinya menurun cukup drastis. Namun, ia memiliki alasan tersendiri untuk tetap di bisnis “keindahan” ini. Yakni, pesaing bisnis di sektor ini terbilang kecil di Jombang, sementara permintaan relatif tinggi.

Baca Juga

Ia mengatakan, pelaku usaha kaligrafi di Kota Santri, tak lebih dari lima orang. Hanya saja, ia mengaku tak tahu soal kecilnya pebisnis lukisan dan kaligrafi, apakah karena kurang telaten atau penyebab lain.

Dia hanya mengatakan, bisnis di sektor ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Sabar menanti pembeli dan telaten membuat karya. Karena menurutnya, tak semua orang menyukai karya lukis.

“Di masa pandemi seperti ini, kami masih bias menjual lima hingga enam lukisan dan kaligrafi. Nominalnya, sekitar Rp 3 jutaan. Kalau situasi normal sebelumnya, bisa dua kali lipat,” katanya di galerinya, Selasa (28/7/2020).

Di dinding galeri Yusuf, nyaris tak ada ruang kosong. Sejumlah lukisan dan kaligrafi berbagai ukuran dan jenis, terpajang di sana. Bahkan, beberapa lukisan, sengaja ia letakkan di teras galeri. Selain tempatnya tidak memungkinkan, juga untuk mengundang minat pembeli.

“Kalau lukisan, paling diminati masyarakat adalah lukisan panen raya. Sedangkan kaligrafi, Asmaul Husna,” urainya.

Yusuf menuturkan tak hanya karyanya yang dipajang di galerinya, sejumlah lukisan dan kaligrafi dia datangkan dari luar Jombang untuk menambah koleksinya. Seperti Bali, Yogyakarta, Solo, Semarang dan Bandung.

“Biasanya pesanan model lukisan dan kaligrafi banyak, saya mendatangkan karya lukisan dari luar Jombang. Saya biasanya melukis seperti foto setengah badan,” kata pria yang sudah menempati lapak yang disulap jadi galeri itu sejak ia pertama kali bergelut di bisnis ini.

Soal harga, Yusuf mengaku tergantung tingkat kerumitan dan kualitas bahan lukis atau kaligrafinya. “Kalau terbilang murah ya murah. Tapi tidak murahan. Dibilang mahal juga tidak. Karena ya itu, karya seni itu unik. Tapi kami mengutamakan kualitas bahan dan keindahan karya. Meski kadang bahan bakunya sulit didapat. Biasanya, bahan kami ambil dari Mojokerto,” ulasnya.

Ia mengaku bersyukur, bisnis yang digelutinya ini mampu menyedot penikmat karya seni di Jombang. Bahkan, ia mengaku kerap didatangi pelanggannya. Meski sekedar lihat-lihat dan berdiskusi soal lukisan dan kaligrafi.

“Alhamdulillah, ada saja peminatnya. Dari kalangan atas sampai bawah. Yak arena seni lukis itu tidak semua orang menyukainya. Apalagi seni kaligrafi,” ungkapnya.

Yusuf juga mengaku optimisnya bertambah, kala mendengar gaung New Normal. Ia berharap,wabah Covid-19 segera sirna di Kota Santri maupun di negeri ini. “Harapannya sama dengan yang lain, ingin bisa kembali bekerja dan mendapat penghasilan,” kata Yusuf.

Penulis: Anggraini

INSTAGRAM

Berita Terkait