Pandemi Covid-19, Ponpes Roudlotul Qur’an Kesamben Terapkan Pembelajaran Tatap Muka

Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Qur'an, Dusun Sapon, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Minggu (3/1/2021). (Foto:Anggraini).
  • Whatsapp

KESAMBEN, KabarJombang.com- Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Qur’an sejak awal hingga saat ini terus meningkatkan amalan Al Qur’an. Tidak berhenti melaksanakan pembelajaran tatap muka meski situasi Covid-19.

Pengasuh Ponpes Roudlotul Qur’an, Habib Soleh yang akrab disapa Abi ini menerangkan,  Ponpesnya hingga saat ini para santri diwajibkan untuk istighosah bersama usai salat Subuh berjama’ah.

Baca Juga

Begitupun dengan pembelajaran formal maupun non formal tetap dilakukan di Ponpesnya.

Ponpes Roudlotul Qur’an ini berdiri sejak tahun 2002 di Dusun Sapon, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Saat ini, total jumlah santri sekitar 52 santri putri maupun putra. Mereka berasal berbagai kota,  seperti Palembang, Madura, Surabaya, Gresik, Lamongan, Kediri, Jombang.

Menurut Abi, di pondoknya, para santri wajib mengikuti istighosah sejak dulu. Usai ibadah subuh istighosah dengan disertai membaca surat Al-Waqiah, Ar-Rahman, Al-Kahfi, Al-Mulk, Asmaul Husna dan itu wajib.

“Kemudian sekitar pukul 06.00 WIB sarapan, baru pukul 06.30 WIB santri baris dengan membaca beberapa ayat Al-Qur’an, dilanjut salat dhuha dan membaca Al-Qur’an 1 juz,” ujar Abi kepada KabarJombang.com, Minggu (3/1/2021).

Selain itu, lanjut Abi, tahfidz Qur’an juga diajarkan di Ponpesnya bagi para santri. Dan jika ada perlombaan pihaknya juga mengikutkan para santri hingga mendapat juara.

“Kalau di Kecamatan Kesamben ini, ya Alhamdulillah kita selalu membawa piala dan terbanyak lah setiap ada even-even gitu,” imbuhnya.

Abi mengaku, sejak awal sudah melakukan tatap muka meskipun dalam situasi Covid-19. Dan ia meyakini bahwa tidak ada Covid-19 di lingkungan Ponpesnya.

Ia juga sempat menyinggung sekaligus menyayangkan jika terdapat Ponpes yang alasan didirikan hanya untuk mencari keuntungan, seperti tidak terdapatnya para santri. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa IPTEK dan IMTAQ harus seimbang dilakukan bagi para generasi muda atau santri demi masa depannya.

“Karena akhir-akhir ini saya merasakan na’udzubillah min dzalik dan tidak semuanya. Mendirikan sesuatu itu kok untuk meraih dulu bukan untuk didahulukan li maslakhatil ummah. Kebutuhan umat ini apa sih, sebenarnya itu. Bukan mencari sesuatu barangkali umat atau masyarakat ini butuh. Tapi sebenarnya kita itu harus pintar-pintar membaca,” katanya.

“Masyarakat saya ini kok sepertinya harus mengkonsumsi ini, maka saya menyediakanlah. Ini namanya li maslakhatil ummah. Bukan saya tak menyediakan ini nanti saya tawarkan barangkali umat masyarakat butuh. Kemudian saya mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang saya berfikir seperti itu, tetapi tidak semuanya,” sambungnya.

Terakhir, ia berpesan agar dalam hidup ini mari menghidupi agama bukan sebaliknya mencari kehidupan dari agama.

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait