by

Modal Banner Menantang Incumbent, Menghadapi Pilbup Jombang

Oleh: Ipoel Simatoepang
(Penikmat Masalah Sosial dan Politik)

Sepanjang jalan-jalan utama di Kabupaten Jombang sudah muncul berbagai banner yang dipasang di tempat-tempat strategis dalam memperkenalkan dirinya sebagai orang yang kepingin merasa diperhatikan.

Melihat berbagai macam banner dengan maksud dan tujuan tertentu, arahnya adalah sama, yaitu bagaimana banner yang dipasang bisa menarik simpati warga yang kebetulan lewat dan membaca banner itu.

Keefektifan komunikasi bisa terjadi apabila ada imbal balik pengetahuan yang verbal dan non-verbal pada bahasa yang akan disampaikan.

Muatan intrinsik yang mudah dimengerti ini memudahkan makna bahasa dimengerti oleh pembaca banner itu.

Melihat keinginan individu yang akan mencalonkan menjadi bupati Jombang pada Pilbup mendatang itu bisa dilihat dua pendekatan yang berbeda.

Pertama: pemasangan banner ini untuk mengukur dukungan masyarakat terhadap pencalonannya menjadi penantang incumbent. Dari sini, bisa dilihat apresiasi yang kuat dari masyarakat untuk melihat visi misi pencalonannya.

Apa yang bisa dilihat dari apresiasi itu? Hal yang mendasar dilakukan adalah dengan melihat seberapa besar dan seberapa banyak yang mengundang calon pada seminar-seminar yang diadakan oleh masyarakat.

Semakin banyak undangan dari masyarakat akan semakin menunjukkan kapasitas calon dalam menyampaikan visi, misi dan program yang akan dikerjakan nantinya.

Kapasitas intelektual juga bisa diukur dari pertemuan-pertemuan terbuka dari calon yang dimaksud. Semakin sering menghadiri forum-forum ilmiah untuk menyampaikan gagasannya, maka semakin tahu kekuatan calon tersebut.

Mengetahui kapasitas intelektual calon bupati ini sangat penting, karena seberapa jauh tindakannya itu tergantung seberapa besar kapasitas intelektualnya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lugas dan terstruktur.

Calon bupati yang tidak hanya berbekal banner saja untuk menarik simpati, tapi memiliki kapasitas yang cukup sebagai pemimpin.

Kedua: pemasangan banner hanya digunakan untuk memperkenalkan diri saja, tanpa target yang pasti. Yang penting orang tahu kalau ada calon bupati.

Model seperti ini juga memiliki kemungkinan agar di dalam survey-survey di lembaga survey namanya muncul. Kalau sudah muncul di survey bisa menjadi bargaining dengan tujuan tertentu.

Bisa juga banner untuk calon tertentu dalam menarik partai politik yang tidak punya calon kuat agar mau mendukung dan mengusungnya.

Siapapun calonnya kalau hanya berbekal banner tanpa pergerakan yang jelas, sangat sulit mengalahkan incumbent yang sudah memiliki jaringan kuat.

Apakah banner tidak penting? Sangat penting untuk mengenalkan wajahnya ke masyarkat. Akan tetapi kalau banner tidak diikuti aksi nyata, akan hampa.

Banner akan menjadi bahan pembicaraan di masyarakat saja, dan masyarakat juga semakin cerdas dalam memilih calon bupati yang diinginkannya.

Pemilihan kata yang tepat pada banner, juga bisa menjadi alat serang yang efektif bagi incumbent, agar rakyat bisa melihat figur yang tepat pada masa yang akan datang.

Wassalam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya