Kader Perempuan PDI Perjuangan Jombang Digembleng Lawan Radikalisme

Sadarestuwati saat memberikan semangat nasionalisme kepada kader perempuan PDI Perjuangan Jombang, dalam acara sosialisasi empat pilar, minggu (16/2). foto : Slamet Wiyoto
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Hj.Sadarestuwati anggota DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, kembali menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan. Bertempat di ruang pertemuan DPC PDI Perjuangan Jombang, sosialisasi kali ini difokuskan pada kader perempuan partai moncong putih.

“Perkembangan teknologi tak bisa dihindari. Di era ini, perempuan juga harus tetap ambil bagian. Jangan sampai gaptek, karena ditangan kita-kita semua NKRI bisa tetap kokoh berdiri,” ulas Estu panggilan akrab Sadarestuwati, minggu (16/2/2020). Dihadapan seluruh kader perempuan ini, Estu juga menceritakan bagaimana sebuah negara kuat bisa pecah dan tinggal sejarah.

Baca Juga

Negara adidaya Uni Soviet menurut Estu, kini telah hilang dari peta dunia. Negara itu terpecah belasan negara kecil untuk merdeka sendiri. Demikian pula Yugoslavia, negara yang dulu makmur dengan kekuatan angkatan perang. Kini Yugoslavia menjadi negara-negara sendiri, sesuai kelompok yang hidup di sana.

Ada pula Libanon, negeri nan indah yang sayangnya sampai saat ini masih dilanda kecamuk perang saudara. Di Libanon, pertempuran bisa terjadi kapan saja, meski sebelumnya dalam kondisi damai.

“Agar kita tidak sampai hilang dari peta dunia, perempuan harus aktif menangkal dan melawan radikalisme dan ekstremisme serta segala sesuatu yang berkeinginan menghancurkan kesatuan NKRI,” kata Estu menambahkan.

Suasana seperti itu menurut Estu harus dipertahankan. Caranya, semua kelompok dan suku-suku yang ada di Indonesia, saling menghormati satu dengan yang lainnya. Tidak boleh ada satu kelompok pun yang merasa menang sendiri. Semua harus mau berkorban demi kepentingan bersama.

Selain itu, salah satu contoh sikap toleransi dan pengorbanan yang patut ditiru generasi muda, menurut Estu saat umat Islam Indonesia rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta, sehingga untuk menjadikan Pancasila seperti yang dikenal sekarang.

Saat itu, para ulama lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia, dibanding ego keagamaan. Dan dengan sukarela serta keikhlasan yang tinggi mereka memilih negara Kesatuan Republik Indonesia dibanding negara Islam.

“Sikap-sikap seperti ini harus senantiasa dikedepankan. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, di atas kepentingan kelompok dan golongan. Inilah yang akan membuat NKRI terus bersatu. Dunia maya sekarang sangat riskan menjadi faktor pemicu perpecahan, ini tugas kita bersama untuk bisa memerangi,” tegas dia.

Negara yang kuat menurut Estu bukan ditentukan oleh militernya. Sejarah membuktikan Uni Soviet yang ditakuti Amerika kini lenyap dari peta dunia. “Kuat lemahnya suatu negara ditentukan oleh rasa nasionalisme seluruh warganya,” ungkap dia memungkasi.

INSTAGRAM

Berita Terkait