Kisah Mbah Mur dan Asal Usul Dusun Boro Cilik, Sumobito Jombang

Makam Mbah Mur, pembabat hutan Dusun Boro Cilik, Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Kabarjombang.com/M Fa'iz H/
Makam Mbah Mur, pembabat hutan Dusun Boro Cilik, Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Kabarjombang.com/M Fa'iz H/
  • Whatsapp

SUMOBITO, KabarJombang.com – Dusun Boro Cilik, Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, memiliki sejarah yang unik. Konon dulunya dibuka oleh dua orang pekerja keras.

Anehnya satu dari dua orang tersebut hingga kini masih menjadi misteri. Tidak ada satupun warga atau tokoh masyarakat setempat yang mengetahuinya. Hanya satu diantaranya biasa disebut sebagai Mbah Mur.

Baca Juga

Konon, Mbah Mur merupakan sosok orang yang dikenal sakti. Dengan satu orang lainnya, Mbah Mur membabat hutan belantara di wilayah Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Hutan yang semula lebat perlahan dibuatnya menjadi perkampungan kecil dan lahan pertanian.

Sesepuh Desa, Sukri mengisahkan, sebelum menjadi Dusun Boro Cilik, Mbah Mur dan satu orang rekannya datang ke lokasi tersebut. Sebelumnya, Dusun Boro merupakan hutan yang lebat.

“Tidak diketahui bersama siapa, pada intinya mereka berdua. Mbah Mur itu seorang perantauan yang berjalan mencari ikan dari Desa Menturo sampai tempat ini,” kata Sukri kepada KabarJombang.com.

Untuk dijadikan tempat kediamannya, Mbah Mur membabat sebagian hutan untuk membangun gubuk. Setelah berhasil membabat sebagian hutan tersebut, dirinya mulai mencari ikan dan berkediaman di tempat.

“Hutan yang dibabat kecil, seperti luas Dusun ini. Setelah kedua tokoh tersebut meninggal dan satunya tidak diketahui jasadnya. Mbah Mur dimakamkan di dusun ini,” jelasnya saat diwawancarai.

Dari kisah Mbah Mur kemudian warga akhirnya menjadikan usaha Mbah Mur mencari nafkah itu menjadi nama dusun. Yakni Dusun Boro Cilik. Dalam bahasa jawa Jombangan ‘Boro’ memiliki arti seorang yang mencari nafkah dengan merantau. Karena wilayah yang dibabat kecil, sehingga diberi nama belakang ‘Cilik’ yang artinya kecil.

“Dari situlah dusun ini dinamai Boro Cilik, atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia itu seorang yang mencari nafkah dengan cara merantau di desa yang tak begitu luas,” kata kakek berusia 90 tahun ini.

Namun sayangnya, kisah tentang upaya Mbah Mur membabat lahan yang dulu hutan belantara hingga kini menjadi perkampungan itu sudah tak banyak lagi yang tahu. Tidak banyak warga setempat yang mengetahui tentang kisah Mbah Mur.

“Semua pelajaran untuk kedepan, pasti mengaca terlebih dahulu kebelakang. Seperti untuk melangkah ke masa depan itu tak harus dengan melupakan sejarah, karena dari sejarah itu bisa dijadikan sebuah pelajaran. Saya harap kedepannya, tempat makam Mbah Mur itu banyak yang mengetahui dan mengunjungi dengan niat baik,” kata Sukri mengakhiri ceritanya.

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait