PLANDAAN, KabarJombang.com – Kekeringan akibat kemarau panjang yang melanda Dusun Brangkal dan Jipurapah, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, memaksa warga beradaptasi dengan cara yang tak mudah. Demi mencuci pakaian, mandi, hingga memberi minum hewan ternak, warga terpaksa mengais sisa-sisa air yang terjebak dari kubangan kecil di dasar sungai yang mongering.
Kondisi sulit ini sudah dirasakan masyarakat setempat selama kurang lebih dua bulan terakhir. Minimnya pasokan air dari sumur warga mendorong munculnya tradisi lokal darurat yang mereka sebut sebagai ‘air wedekan’.
Wedekan merupakan lubang-lubang kecil di dasar sungai yang digali secara gotong royong oleh warga untuk menampung resapan air tanah yang masih menyumber.
Leni (45), salah seorang warga Dusun Brangkal, menceritakan bahwa saban hari dirinya harus mendatangi kubangan tersebut karena sumur di rumahnya sudah benar-benar mengering.
“Tidak ada air di rumah, sudah kering sekitar dua bulan. Jadi setiap hari mencuci di sini (kubangan sungai),” ujar Leni saat ditemui di lokasi, Sabtu (24/10/2026).
Meski berada di dasar sungai yang mengering, Leni menyebut warga tidak punya banyak pilihan. Air dari wedekan tersebut menjadi penambang kebutuhan harian yang sangat krusial.
“Selain untuk mencuci dan mandi, air wedekan ini juga digunakan untuk minum hewan ternak. Warga tidak takut kotor karena airnya menyumber terus dan jernih,” tambahnya.
Uniknya, keberadaan titik wedekan di dusun tersebut terbilang terbatas. Warga pun harus saling pengertian dan bersabar saat hendak memanfaatkan sumber air darurat tersebut.
“Ini dibuat bareng-bareng secara gotong royong oleh warga. Kadang satu lubang dipakai ganti-gantian. Kalau pas ramai ya harus antre,” jelas Leni.
Merespons adanya laporan krisis air bersih yang semakin meluas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang mulai menerjunkan bantuan air bersih ke lokasi terdampak sejak Sabtu (24/10/2026).
Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria yang akrab disapa Pepy, menjelaskan penyaluran air bersih dilakukan secara berkala setiap dua hari sekali. BPBD menyiagakan dua unit truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk menyuplai dua dusun terdampak di Desa Jipurapah, yaitu Dusun Jipurapah dan Dusun Brangkal.
“Dalam sekali jadwal pendistribusian, armada tangki BPBD melakukan dua kali pemberangkatan guna memastikan total pasokan 10.000 liter per dusun dapat tersalurkan dengan baik,” ungkapnya.
Berdasarkan pendataan BPBD Jombang, dampak kekurangan air bersih di Desa Jipurapah meliputi dua dusun. Dusun Jipurapah tercatat memiliki 200 kepala keluarga (KK) atau 540 jiwa yang terdampak. Sementara itu, di Dusun Brangkal terdapat 200 KK atau 600 jiwa.
Dengan demikian, jumlah warga terdampak di kedua dusun tersebut mencapai 400 KK atau 1.140 jiwa.
Dampak kekeringan juga dirasakan sektor pendidikan. Dua sekolah yang masuk dalam pendataan BPBD Jombang adalah SDN Jiporapah 1 dengan 94 siswa dan SMP Negeri 3 Plandaan yang memiliki 53 siswa.
Hadirnya bantuan tangki air bersih ini diharapkan mampu meringankan beban warga, khususnya untuk kebutuhan konsumsi dan memasak, sementara air wedekan tetap dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sanitasi serta ternak selama musim kemarau belum usai.









