Diduga Bikin Sumur Surut, Operasional Irpom 24 Jam Dikeluhkan Warga Kebondalem Jombang

Irigasi Perpompaan (Irpom) di Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Jombang. (Wahyu/Kabar Jombang)
  • Whatsapp

BARENG, KabarJombang.com- Pengoperasian irigasi perpompaan (Irpom) di Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, diduga berdampak terhadap penyusutan air sumur milik warga sekitar. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena debit air sumur dilaporkan berkurang ketika pompa beroperasi selama 24 jam, sehingga pengoperasiannya masih perlu diuji coba dan dievaluasi.

Salah seorang warga Desa Kebondalem, Adip, warga RT 01/RW 01, mengaku merasakan penyusutan air sumur miliknya setelah Irpom beberapa kali dioperasikan secara terus-menerus. Ia mengatakan, dampak tersebut baru terlihat setelah pengoperasian pompa untuk ketiga kalinya.

Baca Juga

“Terdampaknya kemarin waktu nyala 24 jam sumur saya sini agak surut. Awalnya waktu Irpom nyala 24 jam itu pertama tidak berpengaruh ke air sumur sini, terus kedua masih belum, baru yang ketiga kalinya itu saya lihat setelah listrik jeglek kondisi air sumur saya ini menyusut,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (17/10/2026).

Adip menjelaskan, sebelum pembangunan Irpom, pemerintah desa telah menyampaikan informasi bahwa sumur pompa tersebut tidak mengambil air dari sumber dangkal. Menurut informasi yang diterimanya, sumber air yang digunakan berada pada kedalaman sekitar 40 hingga 42 meter di bawah permukaan tanah.

“Waktu akan dilakukan pembangunan itu, pemerintah desa memberikan informasi kalau tidak akan mengambil air dari sumur sumber dangkal, katanya sumber air yang diambil itu 40 meter, 41 sampai 42 meter ke bawah, dan katanya tidak akan berdampak ke warga,” ucapnya.

Ia menuturkan, pengoperasian Irpom saat ini menyesuaikan kebutuhan petani. Jika sebelumnya pompa sempat dinyalakan selama dua hari berturut-turut, pola pengoperasiannya kemudian diubah menjadi pagi hingga sore hari, dengan batas waktu maksimal sekitar pukul 16.00 WIB.

Adip mengaku khawatir apabila pompa kembali dioperasikan selama 24 jam karena kondisi tersebut berpotensi diikuti penyusutan air sumur warga seperti yang pernah dialaminya.

“Kalau diberlakukan sampai 24 jam seperti sebelumnya, takutnya nanti jeglek lagi dan air sumur milik warga termasuk saya itu surut airnya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kebondalem, Faisol Zakariya, mengatakan dugaan pengaruh pengoperasian Irpom terhadap debit air sumur warga belum dapat dipastikan. Menurutnya, penggunaan fasilitas tersebut sejauh ini belum maksimal karena pengoperasiannya masih menyesuaikan kebutuhan petani.

“Belum dapat dipastikan sebab penggunaannya belum maksimal, hanya beberapa jam dalam satu hari, sesuai kebutuhan para petani. Irpom itu benar sudah satu bulan ini berdiri,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Faisol berharap keberadaan Irpom tidak hanya menunjang kebutuhan pengairan lahan pertanian, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, terutama saat musim kemarau. Namun, pemanfaatan tersebut masih memerlukan pembangunan jaringan pipa.

“Saya berharap juga bisa dimanfaatkan sebagai suplai kebutuhan rumah tangga di saat musim kemarau. Akan tetapi, masih membutuhkan pipanisasi,” ucapnya.

Ia menambahkan, durasi pengoperasian Irpom belum dapat ditentukan secara pasti karena fasilitas tersebut masih dalam tahap uji coba. Menurutnya, pompa baru berfungsi selama sekitar dua pekan.

“Masih dalam tahap uji coba karena baru berfungsi dua pekan,” pungkasnya.

Pantauan dilapangan, Irpom tersebut berada di pinggir area persawahan Desa Kebondalem, tidak jauh dari permukiman warga. Berdasarkan keterangan pada papan informasi proyek, fasilitas tersebut dirancang untuk mengairi lahan pertanian seluas 40 hektare.

Berita Terkait