oleh

Dibalik Bisnis Seragam Batik Njomplangan

“Wes ekonomine lagi seret, arek sekolah biayane malah gak karu-karuan. Ndisek jare seragam gratis, ujung-ujunge tuku seragam batik rego 400 ewu, karepe opo koyok ngunu iku, wes sumprit kecepit lek enek pilihan Adipati maneh, gak bakal nyoblos. Garai gelo ae nang ati,” gerutu Man Gondo sore itu. Ia tak tahu harus menumpahkan kekesalannya pada siapa.

Secangkir kopi buatan Rusmini seakan tak mampu menenangkan Man Gondo. Ia terus meracau, mengutuk pemerintahan Adipati Kanjeng Ratu Muntiah. Ia kecewa dengan janji sang Adipati yang seakan mengingkari perjuangan para pemilihnya.

Persoalan sepele namun cukup berat bagi kalangan seperti Man Gondo. Mahalnya sebuah kain seragam batik khas Njomplang yang konon dikoordinir oleh para kepala sekolah.

“Olaopo se Man, ngroweng koyok wong kesurupan, sampek sumpah gak bakalan nyoblos. Mbarekan yo mikiro riko, pilihan ngarep kemungkinan gak tampil karena faktor usia,” timpal Rusmini.

“Jengkel aku Yu, jare anti pungli lah iki kok malah banter-banteran golek Upeti” jawab Man Gondo yang tak bisa menyembunyikan kekecewaan diraut mukanya yang mulai nampak keriput.

“Gak oleh ngunu, gak oleh nuduh tanpa bukti, durung mesti seng pean omongno iku bener. Aku yo duwe anak sekolah, piye neh seragam gratis e jare khusus seng pramuka karo seng nasional plus olahraga. Lah lek sak iki batik Njomplangan iku kudu tuku yo wes lah wong cilik iso e manut ae,” ujar Rusmini menenangkan.

Man Gondo hanya tersenyum kecut. Namun, guratan kekesalan masih terpampang nyata. Cak Besut yang sejak tadi mendengar keluh kesah Man Gondo akhirnya angkat bicara. Ia mengatakan, jual beli seragam sekolah sebenarnya sudah ada larangannya.

Dikatakannya, Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, tepatnya pada pasal 12. Dalam pasal ini menurut Cak Besut, sekolah dilarang menyediakan, atau menjual peralatan sekolah, baik itu seragam, buku dan lain-lain. Baik secara kolektif maupun personal.

“Kain batik masio ta khas masing-masing sekolah tetep gak oleh disediakan tanpa persetujuan orang tua. Praktek e MKKS seng jare wadah poro kepala sekolah, justru golek untung dengan menggeret rekanan kain batik, Koperasi sekolah yang memang diperbolehkan menjual seakan hanya sebagai topeng saja untuk menghindari jeratan hukum, padahal para oknum kepala sekolah inilah yang berperan penting sebagai penjual ke siswa. Orang tua mau gak mau dipaksa beli jika tidak ingin anaknya tersisihkan,” ulas Cak Besut panjang lebar.

Dia bilang, kebijakan yang bertolak belakang dengan keinginan pemerintah pusat dalam mewujudkan pemerataan di sektor pendidikan inilah, yang kini dirasakan masyarakat Kadipaten Njomplang.

Belum lagi, menurut Cak Besut, banyaknya para pendekar di sekeliling pemerintahan yang menggunakan jabatan mereka untuk kepentingan pribadi. Tak ayal, yang jadi korban, adalah warga Kadipaten Njomplang.

“Proyekan dimakelari, izin dimakelari, sekelas seragam ae dimakelari dadi ojo salah lek visi Kadipaten Njomplang ganti Berkarate dan Berdaya Jual Tinggi, soale akeh pemain silat seng dodolan dewe-dewe,” jare Cak Besut.

Tuku gedang nang prapatan
Oleh sak itik dipurak wong sak gang
Bisnis seragam ancen menjanjikan
Kain batik seng gae bancakan

*Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Jurnalis: Adi Susanto
Editor: Muhammad Sholeh

Berita Lainnya