Harga Tepung Melonjak, Laba Pedagang Bakso di Jombang Tergerus Hingga 50 Persen

Kasitur, pedagang bakso di Kwijenan, Jelakombo, Jombang saat melayani pelanggan. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Kenaikan harga tepung hingga 100 persen mulai membebani pedagang bakso di Kabupaten Jombang. Kondisi ini membuat keuntungan usaha tergerus hingga 50 persen. Meski demikian, pedagang tersebut memilih tidak menaikkan harga jual maupun mengurangi porsi bakso demi mempertahankan pelanggan.

Dampak kenaikan harga bahan baku tersebut dirasakan Kasitur, pedagang bakso di Kelurahan Jelakombo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Selama kurang lebih satu bulan terakhir, ia harus memutar otak untuk mempertahankan usahanya di tengah lonjakan harga tepung yang menjadi salah satu bahan utama pembuatan bakso.

Baca Juga

Kasitur mengatakan, harga tepung yang sebelumnya berkisar Rp9 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp17 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut membuat biaya produksi semakin besar, sementara pendapatan yang diperoleh justru mengalami penurunan.

“Untuk bahan baku bakso dari tepung, dampaknya terasa pada penjualan maupun produksi. Semuanya terdampak. Kenaikannya 100 persen, dari Rp9 ribu sekarang menjadi Rp17 ribu per kilogram. Kondisi ini sudah berlangsung kurang lebih satu bulan,” ujar Kasitur Sabtu (7/11/2026) malam.

Menurutnya, kenaikan harga tepung membuat keuntungan yang diperoleh dari berjualan bakso semakin menipis. Bahkan, labahnya disebut mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.

Meski menghadapi tekanan biaya produksi, Kasitur memilih untuk tidak menaikkan harga bakso yang dijualnya. Ia juga tidak ingin mengurangi porsi demi menjaga kepercayaan dan mempertahankan pelanggan yang selama ini menjadi penopang usahanya.

Sebagai langkah menyiasati kenaikan harga bahan baku, Kasitur kini menggunakan tepung dengan harga yang lebih murah. Cara tersebut dilakukan agar biaya produksi tetap terkendali dan usahanya bisa terus berjalan.

“Saya menyiasatinya dengan menggunakan tepung yang harganya lebih murah, supaya tetap bisa berjualan dan pelanggan tidak beralih,” katanya.

Ia membutuhkan 15 kilogram tepung untuk sekali produksi bakso dan untuk 2 hari penjualan.

Kasitur mengaku telah menggeluti usaha bakso selama 21 tahun. Namun, lonjakan harga bahan baku kali ini menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan usahanya.

Ia berharap harga tepung dapat kembali stabil sehingga beban biaya produksi tidak semakin memberatkan pedagang kecil. Sebab, jika kenaikan terus berlanjut, bukan tidak mungkin keuntungan pedagang bakso akan semakin tergerus dan keberlangsungan usaha mereka kian terancam.

Berita Terkait