GUDO, KabarJombang.com – Musim haji 2026 membawa berkah bagi para pengrajin manik-manik di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Tasbih handmade khas daerah tersebut kini menjadi salah satu souvenir favorit yang banyak diburu jamaah haji untuk dijadikan buah tangan sepulang dari Tanah Suci.
Permintaan tasbih meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir karena banyak dibeli untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat, hingga tamu yang datang bersilaturahmi usai kepulangan jamaah haji.
Salah satu pengrajin manik-manik, Nur Wachid, mengatakan lonjakan pembelian pada musim haji tahun ini mencapai 70 hingga 80 persen dibanding hari biasa.
“Biasanya pembelian untuk souvenir haji dalam sekali pesan bisa mencapai ratusan buah. Banyak yang membeli untuk dibagikan kepada keluarga dan tamu setelah pulang haji,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Tasbih khas Gudo, Jombang memiliki ciri khas tersendiri karena dibuat secara handmade menggunakan bahan dasar limbah kaca yang diolah menjadi kerajinan bernilai jual tinggi. Selain tasbih, pengrajin juga memproduksi berbagai aksesoris manik-manik lain seperti gelang, kalung, dan gantungan kunci.
Menurut Nur Wachid, pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Jakarta, Bali, hingga Kalimantan. Bahkan, produk kerajinan manik-manik asal Gudo juga pernah dipasarkan ke luar negeri melalui agen ekspor-impor.
Harga tasbih yang dijual bervariasi, mulai Rp7 ribu hingga Rp100 ribu per buah, tergantung motif, bahan, dan tingkat kerumitan pengerjaan.
Di tengah meningkatnya permintaan, para pengrajin menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi. Meski demikian, mereka tetap berusaha memenuhi pesanan yang terus berdatangan menjelang kepulangan jamaah haji.
Sementara itu, salah satu pembeli, Tantrina Rahmawati, mengaku tertarik membeli produk manik-manik khas Gudo karena desainnya unik dan cocok dijadikan oleh-oleh.
“Aksesorisnya bagus dan berbeda dari yang lain. Cocok untuk hadiah keluarga maupun souvenir,” katanya.









