Wisata

Hasil Biotilik, Sungai Boro di Panglingan Wonosalam Tunjukkan Ekosistem Sehat, Dorong Potensi Ekowisata Berbasis Edukasi Lingkungan

WONOSALAM, KabarJombang.com – Kondisi ekosistem Sungai Boro di Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang, dinyatakan sehat dan tidak tercemar berdasarkan hasil biotilik yang dilakukan oleh mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, bekerja sama dengan Yayasan Ecoton. Kegiatan ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata edukatif berbasis konservasi lingkungan.

Pemantauan kualitas air menggunakan metode biotilik dilakukan pada Kamis (10/7) dalam rangkaian kegiatan kunjungan edukatif yang melibatkan 28 peserta dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, serta tim dari Yayasan Ecoton.

Hasil analisis menunjukkan keberadaan berbagai jenis makroinvertebrata dari kelompok EPT (Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera), yang dikenal sangat sensitif terhadap pencemaran air. Nilai indeks biotilik yang diperoleh mencapai rata-rata 3,5, mengindikasikan bahwa kualitas air Sungai Boro tergolong sangat baik dan belum tercemar.

Selain praktik biotilik, peserta juga melakukan eksplorasi ekowisata di kawasan hutan Mendiro yang merupakan bagian dari upaya konservasi lokal. Hutan ini dikelola bersama oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Kepuh dan masyarakat sekitar, dengan berbagai komoditas lokal seperti durian, kopi, dan kemiri yang masih lestari.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa pelestarian sungai dan hutan tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan ekosistem yang perlu dijaga bersama,” ujar Jofan Ahmad dari Yayasan Ecoton.

Paksi Samudro, mahasiswa Universitas Negeri Malang, menyatakan bahwa kegiatan ini memperkaya wawasan generasi muda terkait keanekaragaman hayati lokal dan pentingnya keterlibatan aktif dalam pelestarian lingkungan. Sementara itu, Rafli dari Universitas Brawijaya menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan berbasis potensi lokal.

Yayasan Ecoton berharap kegiatan serupa dapat direplikasi di berbagai daerah lain sebagai bagian dari pendekatan edukatif dan partisipatif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam di tingkat lokal.

“Kami berharap agar kegiatan konservasi lingkungan bisa diterapkan di berbagai daerah dengan terus menjaga sumber daya alam,” ungkap Jofan Ahmad.

Sementara itu, Wagisan ketua KTH Kelompok Pelindung Hutan dan Sumber Mata Air (KEPUH), sekaligus sebagai warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Wonosalam. Menghimbau kepada seluruh masyarakat kabupaten Jombang agar bersama-sama menjaga keasrian lingkungan alam di Wonosalam. Sebab, Wonosalam memberikan keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Jombang mulai dari sumber air, perkebunan, dan pariwisata alam.

“Saya berharap kepada semua warga Wonosalam dan seluruh masyarakat Kabupaten Jombang agar bersama-sama menjaga keasrian Wonosalam, seperti sungai dan sumber mata air yang ada di Wonosalam. Kalau sampai sumber mata air atau sungai di Wonosalam tercemar, maka masyarakat Kabupaten Jombang sendiri yang akan terkena imbasnya,” tegasnya.

Leave a Comment
Share
Published by
Wahyu Umattulloh Al'iman