Watu Gilang di Desa Keboan Jombang, Dipercaya Tanda Berakhirnya Pertarungan Kebokicak dengan Surontanu

Batu yang dipercaya sebagai saksi pertarungan Kebokicak dan Surontanu di Desa Keboan, Ngusikan, Jombang. (Foto: Tim Jombang Bukan Misteri)
  • Whatsapp

NGUSIKAN, KabarJombang.com – Kisah pertarungan Kebokicak dengan Surontanu, dipercaya berakhir di Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Di kawasan sungai Brantas desa setempat.

Hanya saja, tempat peristirahatan terakhir dua tokoh yang melegenda di Jombang ini, masih misteri. Hingga saat ini, beragam informasi terkait keberadaan makam Kebokicak dan Surontanu, masih simpang siur.

Baca Juga

Belum ada referensi apapun dan dari manapun soal keberadaan makamnya. Yang ada, hanya kisah Kebokicak bertarung dengan Surontanu, terakhir kali berada di Desa Keboan. Tersiar kabar di masyarakat, terdapat Watu (batu) Gilang sebagai penanda lokasi kedua tokoh tersebut terakhir bertarung.

“Ini menurut cerita yang kami dapat, memang di sini adalah tempat terakhirnya Kebokicak dan Surontanu bertarung. Dan ada namanya watu (batu) gilang. Menurut cerita, itu diyakni ada, sejak Kebokicak itu.” tutur Jazuli, salah satu tokoh masyarakat kepada Tim “Jombang Bukan Misteri” KabarJombang.com.

Batu gilang itu, lanjutnya, merupakan sebuah batu berukuran cukup besar berbentuk lonjong seperti telur. Namun, terbelah menjadi dua. Batu yang awalnya satu lalu menjadi dua tersebut, berada di tempat terpisah. Satu bagiannya, ada di Desa Keboan.

Jazuli mengatakan, dari cerita yang dia dapat, kisah pertarungan Kebokicak dengan Surontanu berakhir dengan kekalahan Kebokicak. Hanya saja, cerita tersebut tidak detail, bagaimana Kebokicak dikalahkan.

“Dari cerita itu, Surontanu yang menang. Apakah Kebokicak kalah dengan disabet atau diapakan, juga tidak jelas. Tapi, cerita itu mengisahkan, jika kepala Kebokicak terlempar sampai ke dusun lain, menyeberangi sungai Brantas,” jelas Jazuli.

“Hanya sebatas sampai di situ cerita yang kami dapat. Kalau soal pertarungannya itu dipicu oleh pagebluk atau sebab lainnya, kami tidak tahu. Termasuk keberadaan makamnya di mana. Dan kisah Surontanu selanjutnya bagaimana, kita juga tidak tahu lagi,” sambungnya.

Diceritakannya, asal mula desa yang ditinggalinya itu bernama Keboan, karena daluhu juga terdapat banyak Kebo (kerbau). Namun, Jazuli tidak mengetahui secara pasti, nama Keboan itu apakah identik dengan dengan Kebokicak atau bukan.

“Kalau sangkut pautnya dengan Kebokicak tidak tahu ya. Tapi memang di sini dulu banyak kebo. Kalau itu jadi cikal bakal nama desa ini dan apakah karena banyak kebonya jadi nama desa, atau memang dari cerita Kebokicak, saya tidak tahu,” ujarnya.

Ihwal keberadaan Batu Gilang yang memiliki keterkaitan hal mistis, Jazuli mengatakan, hal itu tidak bisa dielakkan.

“Ya kalau mistisnya pasti ada, cerita-cerita yang membuat bulu kuduk merinding, juga ada. Tapi untuk keberadaan batu gilang itu, saya juga belum paham. Tapi, ada tempat terdapat gundukan tanah di area persawahan. Banyak orang menyebut, di situlah hawa mistisnya besar, dan di sekitar sana dipercaya merupakan tempat bertarungnya Kebokicak dengan Surontanu,” terangnya.

Tim “Jombang Bukan Misteri” pun mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi lokasi yang terdapat gundukan di area persawahan tersebut. Luas gundukan ternyata cukup luas, berukuran sektiar 10 x 12 meter. Terletak tidak jauh dari Sungai Brantas.

“Banyak orang menyebut, di sini lah tempat bertarung Kebikicak dan Surontanu. Kalau watu gilangnya, saya lupa di mana,” kata Jazuli di lokasi gundukan tanah tersebut.

Selain itu, tim “Jombang Bukan Misteri” juga menemukan lokasi yang terdapat beberapa bebatuan. Tepatnya, di bagian atas tanggul Sungai Brantas. Hanya satu batu yang letaknya berbeda. Bentuk batu tersebut terbelah separo dan diletakkan di atas batu cukup besar sebagai tumpuannya. Batu itu, dibalut kain seadanya.

Di area itu, terdapat tempat bakar-bakar wewangian. Mirip di sebuah punden. Dan di sekeliling area tersebut, terdapat pagar ala kadarnya berbahan bambu. “Mungkin inilah yang dimaksud dengan Watu Gilang tersebut,” pungkasnya.

Hingga kini, kisah Kebokicak dan Surontanu masih memiliki daya tarik tersendiri untuk terus digali. Meski, kisah tersebut terhenti tanpa meninggalkan jejak referensi atau kisah dari pendahulu yang menyambung. Meminjam bahasa pondokan, “tidak ada perawinya”.

INSTAGRAM

Berita Terkait