Sejarah Sunan Madjaagung, Wali Keturunan Majapahit dan Sunan Giri yang Dimakamkan di Mojoagung

Foto : KH. Moch Adam Sinni sesepuh Makam Sunan Madjaagung yang juga merupakan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung.
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Memiliki nama asli Pangeran Sombo, nama Islam Mbah Abdullah, serta nama julukan Sunan Madjaagung, merupakan seorang wali keturunan dari kerajaan Majapahit dan juga termasuk adik dari kakeknya Sunan Giri.

Sejak tahun 1987, makamnya ditemukan oleh KH. Moch Adam Sinni tepatnya di Dese Betek, Kecamatan Mojoagung, Jombang di sebelah Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah. Abah Adam biasa orang menyebutnya merupakan sesepuh dan yang merawat makam tersebut bersama kepala desa setempat.

Abah Adam mengaku, makam ini dulunya terpendam cuma ada batu nisan patah yang muncul. Selain itu di sekitar makam ini dulunya juga terdapat pohon besar yang rindang.

Mengingat banyaknya orang yang mendatangi makam ini serta menurut sejarah betapa besarnya pengaruh dari Sunan Madjaagung pada zaman dulu termasuk berhasil mendamaikan umat islam dan umat hindu. Kemudian Abah Adam beserta para sesepuh serta pemerintah desa setempat memutuskan untuk merenovasi dan merawat makam ini.

“Mbah Madjaagung itu mempunyai nama asli Pangeran Sombo, adik dari Prabu Minak Sembuyu, beliau menjadi sunan atau wali karena punya sejarah yang sangat panjang. Prabu Minak Sembuyu sama Prabu Minak Sombo ini merulakan anak dari Prabu Amartha, yang merupakan nama lain dari Prabu Dhamarwulan,” terang KH. Moch Adam Sinni.

“Menurut sejarah lama Majapahit, Prabu Dhamarwulan punya istri empat, dua istri dari Prabu Minak jinggo, diantaranya Dewi Puyengan sama Dewi Wuhita. Yang kemudian juga menikah dengan anak dari pamanya yang bernama Putri Anjasmoro, merupakan anak dari Pati Logender. Terakhir Dhamarwulan menikah dengan Putri Kencana Wungu Majapahit,” jelasnya.

“Hasil dari menikah dengan Prabu Dhamarwulan, Dewi Wuhita melahirkan dua orang anak, diantaranya Prabu Minak Sembuyu dan Pangeran Sombo (Sunan Madjaagung). Beliau masuk islam pada saat anak dari Prabu Minak Sembuyu yang bernama Dewi Sekar Dadu terkena sakit parah semacam penyakit kulit,” paparnya.

“Kemudian Ia bertemu dengan seorang wali Maulana Ishaq di alas Purwo, Banyuwangi. Dan singkat cerita Pangeran Sombo memutuskan untuk masuk Islam dengan nama Abdullah. Sampai berhasil menyembuhkan keponakanya dan Maulana Ishaq menikah dengan Dewi Sekar Dadu,” terangnya

“Maulana Ishkak dan Dewi Sekar Dadu punya anak bernama Sunan Giri. Jadi Sunan Madjaagung termasuk adik dari kakeknya Sunan Giri,” ungkap Kyai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, Jombang.

Kenapa kemudian dia ada disini. Setelah terjadi perang dingin yang saling membunuh antara kerajaan Majapahit dan keraton Giri Kedaton yang notabenya kelompok muslim atau para wali yang waktu itu rajanya adalah Sunan Giri.

Mengingat terjadi perang yang tidak selesai-selesai antara islam dan hindu. bahkan masih ada beberapa kerabat termasuk bibi dari Sunan Ampel yang dinikahi raja Brawijaya V. Akhirnya disepakati oleh para wali harus ada orang yang bisa mendamaikan.

Diutuslah Maulana Ishaq, karena ia masih saudara dari Sunan Ampel. Dipanggil dari pasai yang merupakan kerajaan malaka, Maulana Ishaq bilang “Saya bisa tapi harus didampingi oleh pamanya istri saya karena dia lebih paham tentang hindu dan kerajaan Majapahit.”

Akhirnya didatangkanlah pangeran Sombo, kemudian sampai di wilayah Majapahit dan berhasil mendamaikan perang antara kerajaan Islam dan Hindu. Perseteruan paling kuat waktu itu Majapahit di pandegani oleh Adipati Terung. Kemudian Adipati Terung didatangi oleh Pangeran Sombo karena mereka masih saudara.

“Adipati Terung kenapa kamu masih terus melawan orang-orang muslim yang dari pesisir utara, (termasuk Surabaya sampai seterusnya),” tanya Pangeran Sombo. “Ya karena saya sepakat dengan Adipati Keling Kediri, bahwa ampel dan seluruh orang-orang islam ini ingin menghancurkan Majapahit,” jawab Adipati Terung.

Singkat cerita Keling dibunuh oleh Pangeran Sombo kemudian Adipati Terung diminta supaya berdamai dengan orang islam. Dan diterangkan “bahwa semua orang islam (termasuk Raden Patah) masih saudara semua sehingga kenapa kita masih terus bertumpah darah.”

Singkat cerita setelah berdamai Pangeran Sombo ini diberi kekuasaan oleh para Walisongo termasuk Sunan Ampel. Untuk berdakwah di daerah gunung Anjasmoro yang sekarang bernama wonosalam.

Sekian tahun berdakwah tidak ada orang yang mau masuk Islam. Orang Hindu malah lari sampai ke Tengger, Banyuwangi, sampai ada yang lari ke luar pulau, termasuk Bali.

Akhirnya dipanggil oleh Sunan Ampel, “Pangeran Sombo kenapa saya dengar kok banyak orang lari dari Majapahit,” tanya Sunan Ampel. “Iya ketiwasan (musibah), orang tidak mau masuk islam,” jawab Pangeran Sombo.

“Kemudian yang masih bertahan islam siapa,” tanya Sunan Ampel. “Tidak ada hanya hutan itu,” jawab Pangeran Sombo. “Ya sudah kalau nanti sudah tertata semua ramai-ramainya zaman, hutan itu namakan Wonosalam, yang artinya hutan yang sudah islam,” jawab Sunan Ampel.

Jadi Penduduknya tidak ada yang masuk islam tapi yang masuk islam yakni hutanya. itu Sunan Ampel yang bilang pada Pangeran Sombo.

Akhirnya sudah berlaku, dan tidak lama kemudian Sunan Ampel meninggal dunia. Seharusnya yang menggantikan adalah sunan giri karena sunan giri usianya masih terlalu muda. Dan Ia Hormat pada Pangeran Sombo karena masih adiknya kakek, sekaligus murid dari orang tuanya kandung paman dari ibuknya.

Akhirnya Pangeran Sombo dipaksa Sunan Giri untuk menjadi pengganti Sunan Ampel. Maka disebutlah sebagai Sunan Madjaagung, Sunan yang berada di Majapahit, dari golongan orang agung. Karena dia masih keturunan raja, anak dari raja Prabu Amartha atau Dhamarwulan.

Disebutlah dia sebagai Sunan Madjaagung dan itu tidak lama 1 – 2 tahun dia menjadi sunan. Kemudian beliau wafat sekitar tahun 1479. Dan disitu kemudian namanya mulai harum, orang-orang hindu banyak yang menyesal, ternyata ini orang baik sehingga banyak orang  hindu datang di makam ini untuk berziarah, cuma caranya berbeda dengan orang islam.

Orang islam juga demikian banyak yang datang kesini saat ini sudah menjadi makam. Akhirnya Pangeran Sombo ini dihormati diwilayah kerajaan Bali, Singaraja karena beliau juga masih keturunan dari Ratu Hitaini anak dari raja Bali sehingga dia sangat dihormati. Diambillah sebagian tanah karena orang Hindu  cukup dengan bekas atau peninggalannya yang kemudian disembayangi dengan cara-cara menurut agama Hindu.

KH. Moch Adam Sinni menjelaskan, makam tersebut pernah didatangi oleh ketua cagar budaya Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Untuk minta penjelasan terkait kebenaran dari makam asli Pangeran Sombo.

Menurut sumber dari tulisan PWNU Jawa Timur Makam Pangeran Sombo ada dua, di Bali dan Botoputih daerah Ampel, Surabaya.

Kemudian KH. Moch Adam Sinni mengatakan kepada PWNU Jawa Timur, ada tiga, yang satu dan asli ada di makam ini (Betek, Mojoagung). “Hampir sama dengan kisah Sunan Bonang juga ada 3, di Tuban, Lasem dan Bawean,” terangnya.

Karena ia sangat meyakini sejak awal pernah bermimpi kalau makam Pangeran Sombo memang berada disini, juga berdasarkan bukti yang ada.

“Seluruh batu-batu di makam ini ukirannya asli jenis batunya sama dengan di makam Sunan Giri. Tidak mungkin buatan orang zaman sekarang, dengan bukti seperti ini apalagi batu nisannya juga dari nisan kerajaan, seperti mahkota raja,” ungkapnya.

Kemudian ia menjelaskan kalau makam yang ada di Singaraja, Bali itu seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada orang Hindu yang mengambil tanah atau peninggalan dari Pangeran Sombo untuk dibawa ke Singaraja, Bali. Hal itu dilakukan karena Pangeran Sombo sangat dihormati dan dikagumi oleh umat Hindu yang ada di Bali.

“Kalau makam Pangeran Sombo yang berada di Botoputih, Surabaya itu memang Belanda sengaja membuat kerusakan sejarah. Makam Pangeran Sombo di Botoputih itu buatan Belanda, kenapa sampai dirusak karena Pangeran Sombo itu punya sejarah yang ampuh dalam perjuangan islam dan mendamaikan hindu,” ujarnya.

“Dan belanda tidak suka dengan cara-cara perdamaian, orang-orang rakyat pribumi berdamai itu tidak suka dia ingin menghancurkan dan mengadu domba. makanya makam disini dirusak, di orat-arit dan makam ini sebelumnya juga terpendam,” katanya.

“Bahkan pernah ada mahasiswa asli dari Belanda datang kesini untuk sengaja mencari dan dia membawa buku dengan bahasa Belanda. Dia bilang sama saya dan orang-orang tua disini dengan memasang alat semacam teropong melihat lurus kesana 500 meter dari makam sini terdapat gapura zaman dahulu yang sekarang tidak ada dan orang yang di makam ini merupakan orang penting di Majapahit,” lanjutnya.

“Lha dari situlah alasan mengapa belanda merusak sejarah ini. Sampai pada zaman penjajahan Belanda, di desa ini dibuat tempat pembuangan orang yang terkena penyakit kulit. Supaya tidak ada orang yang datang kesini, karena ada peninggalan sejarah. Itu cara Belanda supaya merusak sejarah alhamdulillah setelah sekian ratus tahun berhasil terungkap,” imbuhnya.

“Nama aslinya Pangeran Sombo, nama islamnya Mbah Abdullah, nama julukannya Mbah Madjaagung. Bisa jadi nama Kecamatan Mojoagung, referensinya diambil dari nama Sunan Madjaagung yang dimakamkan di Desa Betek Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang,” pungkasnya. (Kevin Nizar)

Iklan Bank Jombang 2024
  • Whatsapp

Berita Terkait