Hadiri Acara Padhangmbulan di Sumobito Jombang, Penyair D Zawawi Imron: Ajining Diri Soko Lathi

Penyair D Zawai Imron saat hadir di Majelis Maiyah Padhangmbulan di Menturo, Sumobito Jombang. (Anggit Pujie Widodo).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Ajining Diri Soko Lathi, menjaga lisan untuk terus bertutu indah demi mencari kemuliaan dalam hati.

Itulah pesan yang disampaikan budayawan dan penyair asal Madura, KH D Zawawi lmron saat hadir di tengah-tengah Majelis Masyarakat Maiyah Padhangmbulan, Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Jombang, Rabu (26/12/2023).

Baca Juga

Penyair mahsyur Indonesia ini, menyisihkan sedikit waktunya di tengah padatnya aktivitas untuk hadir dalam Majelis Maiyah Padhangmbulan. Sebelum, pria berusia 80 tahun itu menyampaikan pesan, terlebih dahulu tampil pertujukan Teater Bangkit dari UNISMA Malang.

Dalam penampilanya, berjudul ‘Perahu Retak’ karya Emha Ainun Najib atau Mbah Nun. Setelah penampilan berakhir, barulah KH D Zawawi Imron masuk.

Ia tiba dengan dituntun beberapa orang, mengingat usianya yang sudah tak lagi muda. Dengan tingkat kayunya, ia berjalan perlahan menuju titik tempat ia duduk.

Setelah duduk di tempatnya, ia diberikan kesempatan untuk menyapa para audiens yang sejak pukul 19.00 WIB sudah tiba mengambil posisi ternyaman di lokasi. Dalam penyampaiannya, hakikat dasar yang harus dilakukan manusia adalah menampilkan sebuah keindahan.

“Dari penelitian ilmiah yang ada dalam asosiasi tradisi lisan, yaitu kearifan lokal milik suku-suku bangsa yang ada di Indonesia itu, ada kalimat-kalimat puitis. Bahasa indah yang mengajarkan kita untuk mempunyai hati yang bersih dan menjernihkan pikiran,” ucapnya.

Jika hatinya tidak bersih dan tidak adanya rasa keindahan, menunjukkan seorang insan tidak dapat melihat suatu ciptaan tuhan dengan wujud yang indah.

“Bagaimana kita sampai kepada hakikat indah itu? Indah bisa mewujudkan rasa cinta. Dan cinta itu tidak bisa dibuat. Seperti contoh, ketika kita cinta kepada anak kita, biasanya jika kita terkena ingusnya atau kencingnya, apakah kita akan jijik? Tidak. Karena itu dari anak kita sendiri. Itu artinya cinta,” ungkapnya.

Cinta tidak bisa dibuat, namun, cinta bisa datang lewat kata indah. Sehingga, mengapa ada kata indah yang mewujudkan cinta? Karena manusia memang harus mencintai siapa yang menciptakan keindahan itu.

“Cinta itu mencerdaskan, menikmatkan. Cinta buta hanya ada jika hatinya buta,” ujarnya lantang.

Jika cinta dengan manusia ditandai dengan hati yang berdegup kencang, maka tanda-tanda cinta bersemi dengan Allah SWT yaitu kita tidak membenci siapapun..

“Menandakan hatimu bersih, dan jika hatimu kotor maka tidak akan ada kenikmatan cinta yang akan dirasakan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia juga menuturkan, bahwa indah tidak hanya memunculkan rasa cinta, melainkan indah juga mampu menjernihkan pikiran.

Bicara kejernihan pikiran, tidak datang dengan sendirinya, namun konsultasikan dengan Allah SWT. Istikharah, karena manusia butuh bantuan tuhan untuk menentukan semua sikap terutama perihal cinta.

“Berpikirlah dengan hati yang jernih, maka kemuliaan akan menyelimuti hati. Karena jika hati sudah terselimuti dengan kemuliaan, sepatah kata pun tidak akan keluar dari lisan kita untuk menyakiti orang lain,” jelasnya menambahkan.

Ajining Diri Soko lathi, kemuliaan seseorang tergantung dari ia menggunakan lidahnya.

Seringkali seseorang mendapat masalah besar karena lidahnya, bisa dari cara bicaranya yang sembarangan. Namun, tidak jarang pula ada manusia yang mendapat suatu kemudahan karena menjaga lidahnya.

Jika sering bicara kasar atau kotor maka dengan sendirinya orang lain akan menganggap kita adalah orang yang cenderung negatif, karena ucapan tidak jauh dari isi kepalanya.

Sebaliknya, ika lidah dijaga dengan berbicara yang positif dan sopan nan indah, tentu akan membuat citra positif. Lisan yang mengeluarkan kata indah, maka hati akan diselimuti kemuliaan.

“Jadi jika hati sudah diselimuti kemuliaan, maka tidak akan pernah seseorang mengucap kata dari lisannya yang menyakiti orang lain. Karena hatinya bersih,” pungkasnya.

Penyair yang terkenal dengan karya puisi nya berjudul ‘Ibu’ ini pun mengakhiri penyampaian pada pukul 23.00 WIB. Di akhir kegiatan, ia menutup agenda dengan salawat dan pembacaan tiga puisi di hadapan para audiens.

 

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait