Pesan Yenny Wahid ke Barikade Gus Dur Terkait Capres-Cawapres

foto : yenny wahid saat hadir di kegiatan apel barigade gus dur di lapangan unhasy jombang. (Anggit Pujie Widodo)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Hadiri kegiatan Apel Barigade Gus Dur di Lapangan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, Yenny Wahid serukan pilih presiden yang mau meneruskan pembangunan. Siapa Dia?

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Jombang, putri mantan presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau akrab ditelinga Gus Dur itu menyerukan bahwa sebentar lagi Pemilu dan semua kader Barisan Gus Dur harus tetap bersabar, menunggu komando.

Baca Juga

“Kedepan kita akan menghadapi pilihan presiden, nanti kita pasti akan berjuang untuk mendapatkan kendaraan politik kembali. Dalam menghadapi Pilpres kedepan semua harap bersabar, semua harap menunggu komando dari saya,” ucapnya, dihadapan peserta Apel pada Kamis (7/9/2023).

Ia mengatakan para pendukung semangat Gus Duru harus tetap bersabar. Dan jika semuanya sudah terang benderang, semua harus bergerak dalam satu komando yang sama. “Begitu kita sudah ada pilihan semuanya harap bersedia untuk melebarkan sayap,” ujarnya.

Yenny juga sempat menceritakan kedekatannya dengan bakal calon presiden seperti Prabowo Subianto dari Partai Gerindra dan Ganjar Pranowo dari PDIP.

“Kemarin juga saya juga sudah bertemu dengan Prabowo Subianto. Pak Prabowo itu punya Mbah, namanya eyang Margono pendiri BNI 46 dan rumahnya berdekatan dengan rumah Mbah saya, Wahid Hasyim,” katanya.

“Jadi kedekatan itu sudah terjalin lama. Kemudian pada tahun 2009 ketika partai kita dicuri orang, kemudian waktu itu kita mengalihkan dukungan ke partainya pak Prabowo. Kok yah tambah barokah saya disana ketemu jodoh. Dengan pak Ganjar juga bukan orang yang jauh, juga punya kedekatan,” ungkapnya.

Selain Prabowo, Yenny juga mengaku dekat dengan bakal calon presiden dari PDIP yakni Ganjar Pranowo. Baginya, Ganjar punya kedekatan secara nilai dengannya.

“Pak Ganjar punya kedekatan secara nilai pribadi dengan saya. Saya pribadi akan tetap melakukan riyadloh ke yang kuasa untuk mendapat keputusan yang terbaik. Paling penting, kita tidak sekedar memilih presiden, tapi harus tau tipikal pemimpin kedepan seperti apa,” jelasnya.

Selain menyinggung soal kedekatannya dengan bakal calon presiden, ia juga mengaku tidak senang melihat ada mantan pejabat yang tidak lahir bertugas, kemudian dijelek-jelekkan.

“Saya paling tidak suka dengan pejabat yang sudah tidak memimpin terus dijelek-jelekkan, apalagi yang dijelek-jelekkan mantan presiden,” tukasnya.

Menurutnya, perbuatan itu sangatlah tidak elegan, karena merusak nilai sejarah dan citra pemimpin dahulu yang telah berjuang untuk memakmurkan bangsa sesuai dengan zamannya.

“Zaman bung Karno waktu itu transisi, dari masyarakat terjajah menuju negara merdeka, maka butuh kepemimpinan yang revolusioner. Keluar dari Kungkungan penjajahan. Pasca kemerdekaan, negata harus ditata, maka Pak Harto selama 32 tahun di dekade pertama pak Harto luar biasa, pertumbuhan ekonomi warganya meningkat waktu itu. Tapi waktu itu juga rakyatnya bersuara sedikit dibungkam,” imbuhnya.

Kemudian, negara mengalami masa transisi lagi di zaman pak Habibie. Dimana saat itu beliau memberikan kita visi tentang negara yang kuat secara tekhnologi. Karena jika negara punya basis tekhnologi maka negata akan mampu bersaing dalam bidang ekonomi.

“Namun, saat itu rakyat juga masih belum sejahtera terutama dalam aspek demokrasi. Maka dari itu lahirnya era reformasi, dimana Gus Dur menjadi pemimpin kala itu, demokrasi di negara kita mulai dibenahi,” ungkapnya.

Disanalah, bagi Yenny, demokrasi sesungguhnya dilahirkan. Mau orang dari kondisi ekonomi berbeda semua sama harus dilindungi oleh Gus Dur. Setelah Gus Dur ada Megawati, corak kebijakan di masa beliau adalah populis, mulai dari butuh dan lainnya semua diperhatikan pada zaman itu.

“Setelah itu ada SBY, beliau memberikan contoh, bagaimana tentara yang terlibat dalam politik ikhlas berkompetisi lewat proses demokrasi. Pak SBY memberikan contoh yang luar biasa, bagaimana militer bisa ikut kontestasi di demokrasi Indonesia,” ujarnya menambahkan.

Terakhir, kemudian ada pak Jokowi, apa yang dilakukan beliau adalah melakukan proses hilirisasi. “Negara itu kalau ingin maju harus lewat industrialisasi atau smelter. Kita adalah negara yang luar biasa kaya, banyak mineral batu, minyak bumi, dan lain, tapi dulu dijual mentah. Kalau dijual mentah yah harganya murah,” ucapnya lagi.

Barang mentah itu kemudian di olah menjadi barang yang ketika dijual harganya jauh lebih mahal. “Negara kalau ikut proses industrialisasi, maka rakyatnya akan lebih kaya. Memulai proses industrialisasi dari jualan bahan mentah ke bahan olahan dan bisa menambah nilai tambah atau added value,” ungkapnya.

Tidak lupa, ia juga berpesan, memilih presiden haruslah sosok yang bisa dan mau meneruskan apa yang telah dikerjakan presiden sebelumnya.

“Presiden kedepan harus bisa meneruskan apa yang telah dikerjakan presiden sebelumnya. Kita mendukung presiden yang mampu meneruskan pembangunan yang sudah dilakukan selama 10 tahun terkahir. Itu kriteria pertama yang harus kita pilih dalam memilih presiden,” tukasnya.

Jadi, dalam menyikapi pilpres kedepan, ia mengingatkan pendukungnya untuk satu komando dan tunggu arahan. Yang jelas kriterianya haruslah orang yang mau meneruskan pembangunan presiden sebelumnya.

“Saya berharap kita semua tetap menunggu komando tapi di satukan oleh hati. Untuk mengingatkan kita semua bahwa rasa itu tidak bisa dibohongi, dan rasa itu tidak bisa disepelekan sebagai tuntutan hidup di masyarakat. Kita berpolitik untuk kemaslahatan umat,” pungkasnya.

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait