MUTUN 2026 Dorong Pesantren Jadi Pusat Gagasan Studi Hadis

MUTUN 2026 dan Annual Meeting ASILHA berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian kajian hadis
MUTUN 2026 dan Annual Meeting ASILHA berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian kajian hadis
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com — Ma’had Aly Hasyim Asy’ari bersama Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) menggelar Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) dan Annual Meeting ASILHA 2026 di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 5-7 Oktober 2026. Forum tersebut mendorong pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi dan periwayatan hadis, tetapi juga melahirkan gagasan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Mengusung tema “Developing Hadith Studies in Pesantren: From the Tradition of Transmission toward the Production of Contemporary Knowledge”, MUTUN 2026 mempertemukan tokoh keagamaan dan akademisi ilmu hadis dari dalam dan luar negeri yang berasal dari lima negara.

Baca Juga

Pembukaan kegiatan berlangsung di Aula Lantai 3 Yusuf Hasyim, Pondok Pesantren Tebuireng, Senin (5/10/2026). Sejumlah agenda disiapkan, antara lain sambung sanad dan ijazah kitab Sahih Bukhari dan Al-Muwatta’, bahtsul masa’il haditsiyah maudlu’iyyah, serta bedah kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid.

Ketua Panitia MUTUN 2026, Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali cita-cita Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam mengembangkan kajian hadis di Indonesia.

Menurut Ubaydi, semangat tersebut salah satunya tercermin melalui pembacaan Nuktah Muhimmah karya Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam pembukaan MUTUN 2026.

“Acara MUTUN ini merupakan ikhtiar untuk mewujudkan cita-cita Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari agar hadis dihidupkan dan dikembangkan yang dimulai dari Pesantren Tebuireng untuk mewarnai peradaban dunia,” ujar Ubaydi.

Ia menjelaskan, tema MUTUN tahun ini sengaja diarahkan untuk melihat perkembangan pesantren dalam studi hadis. Pesantren selama ini dikenal sebagai ruang transmisi ilmu dan penjaga sanad keilmuan, namun perannya diharapkan berkembang menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan baru.

“Bagaimana pengembangan keilmuan hadis itu muncul dari pesantren, bagaimana pesantren itu bergerak yang dulu dikenal sebagai pusat periwayatan hadis, maka kali ini kita akan mengkaji apakah pesantren masih menjadi pusat periwayatan saja atau sudah berkembang menjadi produsen-produsen gagasan baru yang berdampak bagi peradaban dunia,” katanya.

Ketua ASILHA, Prof. Saifuddin Zuhri Qudsi, mengatakan kolaborasi MUTUN dan Annual Meeting ASILHA mendapat respons positif dari Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membahas arah pengembangan ilmu hadis sekaligus merespons perubahan zaman.

Ia menilai studi hadis tidak cukup hanya berorientasi pada perkembangan keilmuan masa lalu. Kajian hadis juga perlu memiliki visi ke depan agar nilai-nilai kenabian dapat terus dikontekstualisasikan dalam kehidupan masyarakat modern.

“Ilmu hadis tidak harus selalu melihat ke belakang. Dia harus memiliki visi ke depan. Visi yang lebih kontekstual, mencoba mengkontekstualisasikan nilai-nilai kenabian yang telah diajarkan 15 abad yang lalu oleh Nabi Muhammad SAW,” ujar Saifuddin.

Sementara itu, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Roziqi, menekankan pentingnya tradisi ijazah dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan di pesantren. Ia mengatakan Tebuireng memiliki tradisi tidak mengajarkan suatu ilmu sebelum memperoleh ijazah dari guru.

Roziqi mencontohkan pengalamannya bersama gurunya, KH Mutohharun Afif, ketika diminta mengajarkan kitab Al-Muwattha’. Saat itu, sang guru memilih tidak langsung mengajarkannya sebelum memperoleh ijazah yang bersambung hingga kepada penulis kitab tersebut.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu cara pesantren menjaga kesinambungan sanad sekaligus memastikan ilmu yang diajarkan memiliki landasan keilmuan yang jelas.

“Sinergi tersebut diharapkan dapat menjadi upaya bersama dalam mengembangkan dan memperkuat keilmuan syariat Islam,” kata Roziqi.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, juga mendorong agar kajian hadis kembali lebih dekat dengan masyarakat. Ia mengatakan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari memiliki perhatian besar terhadap penyebaran ilmu hadis di tengah masyarakat.

Gus Kikin menyebut pernah menemukan sejumlah majelis khataman kitab hadis yang digagas Hadratussyaikh di berbagai daerah, antara lain Banyuwangi dan Ponorogo. Kegiatan tersebut disebut berlangsung setiap Selasa.

Ia berharap Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dapat menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan memperluas kajian hadis hingga ke tengah masyarakat. Menurutnya, penguasaan ilmu hadis menjadi bagian penting bagi seseorang yang akan menyampaikan ajaran agama.

“Beliau menyampaikan bahwa barangsiapa yang menguasai hadis maka akan kuat argumennya. Oleh karena itu, di dalam bermasyarakat yang paling cocok adalah siapa yang menguasai hadis, baru kemudian mengajarkan ilmu-ilmu yang lain,” ujar Gus Kikin.

Gus Kikin juga berharap MUTUN dan pengembangan kajian hadis tidak berhenti di lingkungan Tebuireng. Ia mendorong agar kegiatan serupa dapat diperluas ke berbagai pesantren dan masyarakat di daerah lain.

“Saya berharap kegiatan ini diperluas ke semua pondok pesantren, masyarakat, sehingga ke depannya umat Islam bisa tersambung, tidak hanya secara lahir tetapi batinnya juga tersambung,” katanya.

MUTUN 2026 dan Annual Meeting ASILHA berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian kajian hadis, penguatan sanad keilmuan, serta pembahasan arah pengembangan studi hadis berbasis pesantren. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan pengembangan studi hadis di era modern.

Berita Terkait