Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke Ponpes Tebuireng Jombang

Acara Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se-Indonesia yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. (Anggit).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, jadi saksi al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ceritakan kesannya kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Kesan tersebut disampaikan dalam agenda Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se – Indonesia yang digelar Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Selasa (22/8/2023).

Baca Juga

Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, merupakan sosok yang tidak asing di kalangan umat Islam di Indonesia. Seorang ulama yang memiliki garis keturunan khusus, terhubung langsung ke Nabi Muhammad SAW.

Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz yang tumbuh sebagai ulama teguh dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah ini, menyampaikan kesannya ke ratusan jamaah yang hadir di Ponpes Tebuireng, Jombang tentang kesannya perihal sosol Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Alim ulama yang lahir pada 27 Mei 1963 di Tarim, Yaman itu menyampaikan pesan berbahasa arab yang di terjemahkan ke bahasa Indonesia itu, bahwa saat ini kita berada di sebuah perkumpulan yang didalamnya terdapat ilmu-ilmu dari Nabi Muhammad SAW. Bagaimana membawa kemaslahatan masyarakat dan dunia.

Disini (Ponpes Tebuireng) semua merenungi salah satu teladan, dan upaya KH Hasyim Asy’ari dalam berjuang menegakkan dasar agama hingga beliau mendirikan NU (Nahdlatul Ulama).

“Didirikan NU ini dengan fondasi yang lurus dan kuat. Yang merupakan adalah buah dari pemahaman yang mendalam dari Allah dan rasulnya. Serta penjelasan yang sempurna dari jalan nabi Muhammad SAW,” ucapnya.

“Juga sebagai bentuk takzim kepada Allah yang menurunkan Wahyu ini, dimana Allah menciptakan semua mengetahui segala sesuatu dan semua akan kembali padanya,” katanya melanjutkan.

Ia juga menyampaikan, bahwa senantiasa umat manusia dari sejak zaman nabi Adam dan keturunannya hingga ke masa sekarang ini, begitu mudah terpengaruh dan terbawa dengan apapun yang disampaikan kepada mereka baik yang haq murni, haq tapi tidak murni maupun tercampur.

“Maupun masuk kedalam kebatilan atau kekufuran oleh mereka yang mendustakan Allah SWT. Semua pemikiran di dalam akhlak, semua itu tidak keluar dari tiga kelompok dan spesifikasi ini,” ungkapnya.

“Sebagaimana yang bersumber dari ahlil haq, bersumber dari kebenaran yang murni, maka seseorang akan menemukan makna-makna dari masyarakat dan menyebarkannya,” katanya melanjutkan.

Ia juga mengatakan, bahwasanya NU merupakan wujud nyata perubahan dunia dalam memandang Islam. Bagaimana, NU mampu menerjemahkan pembaharuan namun tidak merubah yang sudah ada.

“Ini adalah sebuah nilai dan contoh yang baik oleh NU sebagai wujud perubahan di dunia ini. Makna pembaharuan di dalam agama bukanlah perubahan, atau mencari hal baru yang merusak fondasi dari agama itu sendiri,” tukasnya.

“Sesungguhnya, pembaharuan yang dilakukan KH Hasyim Asy’ari dilandasi oleh pemahaman agama yang mendalam. Dimana beliau ingin mengevaluasi kondisi umat. Bahwa sudah disebutkan, tidak akan menjadi baik umat generasi akhir ini, melainkan mereka kembali pada khittah ajaran awal,” ungkapnya jelas.

KH Hasyim Asy’ari juga menjalankan tugas yang amat penting. Mengemban amanah para nabi dalam menyampaikan ilmu yang datang melalui Wahyu kepada masyarakat. Maka yang dicari adalah semata-mata ridho Allah SWT tidak ada yang lain.

“Beliau di dalam berinteraksi di masyarakat menjalankan sebuah tugas, mencontohkan sesuatu yang baik dan luhur, menyampaikan dengan baik, bermusyawarah kepada masyarakat. Beliau, menjalin hubungan dengan beragam kelompok masyarakat, kepada semua orang baik atasan, bawahan, pedagang, petani dan tanpa melupakan tugas yang diemban yakni membacakan dan menyampaikan ayat-ayat Allah SWT,” jelasnya.

Lebih lanjut, disebutnya juga bahwa KH Hasyim Asy’ari juga bukan orang yang mengekor, fanatik, tidak ikut dalam sebuah pertikaian.

“Beliau melepaskan itu semua. Beliau dikenal sebagai orang yang berinfak meletakkan sesuatu pada tempatnya dan bukan orang yang rakus. Harta yang beliau punya ditempatkan pada tempatnya,” ucapnya.

Dalam satu cerita, ia menceritakan, bahwa ada perkumpulan pedagang wanita yang mengumpulkan harta dari hasil dagang itu dan harta yang telah terkumpul itu kemudian disodorkan kepada KH Hasyim Asy’ari. Namun, KH Hasyim Asy’ari malah mengajak para pedagang itu, supaya hartanya dibuatkan sebuah madrasah dan meletakkan harta tersebut sesuai pada tempatnya.

“Seandainya beliau tidak mencapai kesucian batin yang tinggi, maka nafsu akan menguasainya lebih dalam. Adapun pendirian beliau di dalam kepemimpinan, di dalam kenegaraan, bagaimana beliau mendirikan jihad, mengusir penjajah, melakukan perjuangan gigih, upaya yang luar biasa hingga Indonesia meraih kemerdekaan,” katanya.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz yang juga duduk bersebelahan mendampingi Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz menceritakan kesannya ketika berbicara sepuluh menit dengan ulama asal Yaman tersebut.

Saat bercerita dengan Habib Umar selama sepuluh menit itu, Gus Kikin sapaan akrabnya menceritakan singkat perjalanan berdirinya Ponpes Tebuireng, Jombang.

“Kami sempat berbincang, perjalanan Ponpes Tebuireng ini menempuh jalan panjang. KH Hasyim Asy’ari mendirikan Ponpes ini, memilih tempat dimana ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari pabrik gula Cukir,” ucap Gus Kikin.

Dimana, lanjut Gus Kikin, pada zaman itu, kemaksiatan di tempat ini dulu sangat luar biasa. “Saya coba mencari mengapa beliau meletakkan tempat ini di tempat yang pada waktu itu penuh dengan kemaksiatan,” katanya kepada para jamaah.

Ia pun mencoba mencari jawabannya dari buku-buku, dimana pada saat itu, ketika KH Hasyim Asy’ari, berada dalam fase akhir masa belajarnya di Mekkah, banyak hal yang di bahas mengenai politik dunia.

Hal yang dibahas salah satunya yakni menurun dan melemahnya Islam di dunia. Hingga pada akhir dari masa belajar, bersama enam orang sahabatnya yang lain dari berbagai negara, keenam sahabat itu berikrar akan berusaha masing-masing memerdekakan negaranya.

“Itulah, begitu tiba di Tebuireng, mendirikan pondok di tengah pusat kemaksiatan. Di kitab-kitab beliau, risalah Ahlussunah Waljamaah, tertulis bahwa sejak tahun 1933 Hijriah, banyak aliran baru masuk ke Indonesia. Membawa pemikiran yang bertentangan, menjadikan kebingungan umat Islam di Indonesia yang sebelumnya hanya ada satu paham pada waktu itu yakni paham Ahlussunah Waljamaah dengan satu Mazhab yaitu imam Syafi’i,” ungkapnya.

Kemudian, lanjutnya lagi, beliau merasa resah akan hal itu, karena ada potensi perpecahan umat Islam di Indonesia. Setelah itu, sekitar tahun 1912, beliau menulis, satu surat dan dikirimkan ke Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui di Mekkah. Diberi judul, menggambarkan kondisi Indonesia, dimana potensi perpecahan umat Islam.

“Kemudian dibalas oleh Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui pada tahun 1915. Setelah itu beliau semangat untuk melawan aliran yang menyebabkan perpecahan umat Islam itu, beliau kemudian bersama para ketua organisasi banyak diskusi, lebih sering Ketua syarikat Islam, Ketua Muhammadiyah dan lainnya,” ungkapnya.

Dari adanya potensi perpecahan ini, kemudian beliau mampu mengajak semua ketua organisasi tersebut pada tahun 1930 bersama untuk membicarakan hal yang sangat serius tersebut.

“Akhirnya semua sepakat, karena Belanda sudah mulai memberlakukan aturan-aturan yang memberatkan umat Islam di Indonesia. Dari satu kondisi adanya perpecahan di Indonesia akhirnya, bersama organisasi yang lain, pada tahun 1937 beliau mendirikan Majelis Islam ala Indonesia yang menaungi 13 organisasi di Indonesia,” katanya.

“Dan NU masuk bergabung satu tahun setelah itu di tahun 1938 itu saat dimana umat Islam di Indonesia menyatu. Dari satu kondisi perpecahan dan nyaris tidak bisa diselamatkan dan mampu diselamatkan lagi, ini merupakan suatu perjalanan bersama para masayikh pada waktu itu, saya menafsiri, bahwa Allah SWT memberikan anugerah kenikmatan yang luar biasa. Sampai dimana pada tahun 1945 itu Indonesia menjadi negara yang merdeka,” pungkasnya.

Sebagai informasi, agenda Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se – Indonesia ini digelar Pondok Pesantren Tebuireng. Kegiatan berlangsung selama satu hari, dimulai sejak pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Sebelum acara dimulai, jalan di sekitar Ponpes Tebuireng Jombang juga tampak dipenuhi ratusan jamaah yang hendak mengikut rangkaian kegiatan seperti Tahlil Kubro di makam Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, tausiyah Habib Umar serta Halaqoh Kebangsaan.

 

 

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait