Jelang Ramadan, Petani Bunga Pacar Air Bantengan Peterongan Jombang Panen Raya

Petani bunga pihong di Desa Bantengan, Peterongan, Jombang. (Anggraini).
  • Whatsapp

PETERONGAN, KabarJombang.com- Menjelang bulan suci Ramadan 1442 H/2021 M, para petani bunga pacar air (pihong) Desa Bantengan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang panen raya.

Nampak di pinggir perlintasan dan sawah di Jalan Desa Bantengan-Desa Dukuh Klopo beberapa petani memetik bunga yang di letakkan di ember dan kresek besar untuk dijualnya.

Baca Juga

ucapan idul fitri kapolres jombang
ucapan idul fitri sadarestuwati
ucapan idul fitri PUPR
ucapan idul fitri Bappeda Jombang
Ucapan Idul Fitri Jombang
iklan bank jombang kredit
ucapan idul fitri BPKAD jombang
ucapan idul fitri BKDPP jombang
iklan Ramadhan Bappeda Jombang
ucapan idul fitri Disdik jombang
ucapan idul fitri dishub jombang
ucapan idul fitri PKB
ucapan idul fitri kemenag jombang
ucapan idul fitri satpol pp jombang

Panen bunga raya di Bantengan ini terjadi hampir disetiap tahunnya, saat akan menjelang bulan suci Ramadan. Bunga-bunga yang terlihat rimbun bermekaran dengan warna merah meronanya itu ditanam para petani di barisan pinggir jalan, ada juga yang di tanam di tengah sawah.

“Iya ini lagi metik dan panen bunga pihong, soalnya kan mau puasa, banyak orang yang nyari buat takziyah ke makam,” kata salah satu petani bunga pihong, Besari (54) saat ditemui sedang memetik bunga di perlintasan Jalan Desa Bantengan, Sabtu (10/4/2021).

Penanaman bunga cimbong tersebut sudah ia tanam sekitar satu bulan setengah lalu. Dan saat bulan-bulan biasa Besari hanya menanam sedikit, tidak sebanyak saat akan menjelang bulan puasa.

Bunga yang ia panen bersama dua keponakannya tersebut nantinya akan ia jual ke Pasar Ploso, Jombang. Kemudian bunga tersebut ia kemas ke dalam satu kantong plastik yang dicampur dengan bunga kenanga, gading, dan pandan.

“Saya jualnya kalau hari puasa atau Megengan itu Rp 5 ribu per kantong plastik, saya jualnya sendiri di Ploso. Tapi, kadang pedagang sayur di Ploso itu juga belinya di saya. Saya jualnya Rp 10 ribu dapat tiga. Soalnya kan dijual lagi sama mereka,” ungkapnya.

Saat sedang memanen bunganya, Besari nampak semangat dengan keringat yang menetes sesekali di wajah dan badannya tanpa mengenakan baju. Kulit tubuhnya seolah sudah berteman dengan sengatan matahari yang memancar ke tubuhnya.

Hal ini juga diungkapkan petani bunga pihong lain, Lika (52) yang sudah menanam bunga pihong sejak dua bulan lalu, yang kemudian ia panen hingga mendapat 10 kantong plastik merah besar.

“Saya nanam bunga pihong ini setiap tahun saat mau Megengan atau puasa. Soalnya kalah nanam pas mau puasa itu pasti lakunya. Biasanya kalau panen dapatnya 10 kantong plastik ini,” kata Lika, saat ditemui disela-sela ia memanen bunga pihong bersama sang suami.

Setiap kantong plastik merah besar bunga pihong, Sulika jual seharga Rp 75 ribu. Dan ia mengaku sudah memiliki pelanggan tetap untuk membeli bunganya. Terkadang juga, ia menjualnya di Pasar Tapen dan Ploso.

“Saya nanamnya ya pas bulan puasa saja, kalau tidak bulan puasa ya tidak nanam,” pungkas perempuan berjilbab abu-abu ini.

Selain itu, nampak juga di tengah-tengah persawah belasan petani bunga sedang memanen bunga pihong dengan kresek besar dan embernya sebagai wadah hasil panen bunga yang sudah mereka petik.

 

 

 

 

Berita Terkait