Foto: SOTR di Ploso, Jombang, menggunakan sound horeg dan penari dipadati penonton. (Istimewa)
PLOSO, KabarJombang.com – Kegiatan Sahur on The Road (SOTR) di wilayah Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, menjadi perbincangan setelah sejumlah videonya beredar luas di media sosial. Aktivitas yang berlangsung pada dini hari itu menuai kritik karena diwarnai hiburan musik keras dan aksi joget yang dinilai kurang mencerminkan suasana Ramadan.
Dalam rekaman yang beredar di TikTok, terlihat ribuan peserta berkonvoi menggunakan sepeda motor sambil mengiringi deretan sound system berdaya besar atau yang dikenal sebagai “sound horeg”. Rombongan melintas di jalan kampung hingga area persawahan saat suasana masih gelap menjelang sahur.
Salah satu video memperlihatkan seorang penari mengenakan busana ketat tampil di depan perangkat audio milik Aprelia Production. Penari tersebut berjoget mengikuti irama musik dan tampak menerima saweran dari sejumlah penonton.
Tayangan itu memicu beragam reaksi warganet. Sebagian menyayangkan adanya hiburan semacam itu di bulan suci Ramadan dan menilai kegiatan tersebut seharusnya lebih mengedepankan kesantunan. Ada pula yang mempertanyakan konsep SOTR yang identik dengan membangunkan warga untuk sahur, namun justru diisi pertunjukan joget.
Sekretaris Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Hengki, membenarkan adanya rombongan yang melintas di jalur penghubung antara Desa Sumbergondang dan wilayahnya pada Minggu (22/2/2026) dini hari. Meski demikian, ia menegaskan kegiatan tersebut bukan agenda resmi pemerintah desa.
“Hiburan berupa jogetan seperti yang terlihat di video tidak selaras dengan nilai-nilai Ramadan. Pemerintah desa tidak terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik Aprelia Production, Aprelia, menjelaskan lebih dari sepuluh sound system turut meramaikan sahur keliling tersebut. Ia menyebut kegiatan itu merupakan inisiatif spontan komunitas sound system setempat dan tidak ada pihak yang menyewa.
Rombongan yang dipimpinnya berangkat dari Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, dan tiba di Jatibanjar sekitar pukul 04.00 WIB. Saat sampai di lokasi, warga disebut sudah memadati area untuk menonton. Kemacetan lalu lintas membuat rombongan baru dapat meninggalkan lokasi sekitar pukul 07.30 WIB.
Terkait sosok penari yang menjadi sorotan, Aprelia menegaskan pihaknya tidak pernah mengundang ataupun menyewa yang bersangkutan.
“Penari tersebut sudah berada di lokasi sebelum rombongan sound system tiba,” terangnya saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).
Leave a Comment