Foto : Polisi, TNI, perangkat desa dan masyarakat saat kerja bakti merenovasi rumah Yuliana Johowinong, Mojoagung, Jombang. (Kevin Nizar)
MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Setelah kisah pilu Yuliana Emawati (43), seorang guru TK asal Dusun Johowinong, Desa Johowinong, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang viral di media sosial karena tinggal di rumah tak layak huni dengan gaji hanya Rp350 ribu per bulan, pemerintah daerah bergerak cepat.
Pada Selasa (14/10/2025), proses perbaikan rumah Yuliana resmi dimulai secara gotong royong oleh warga, pemerintah desa, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan di Kecamatan (Forkopimcam) Mojoagung.
Langkah cepat ini dilakukan setelah instruksi langsung dari Bupati Jombang, serta dukungan dari Kapolres dan Dandim Jombang. Camat Mojoagung, Anjik Eko Saputro, memastikan bahwa aksi ini adalah bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap warga yang membutuhkan.
“Untuk kegiatan hari ini, sesuai arahan pimpinan Bupati, Kapolres, dan Dandim kami dari kecamatan bergerak cepat. Tadi malam sudah dilakukan musyawarah, dan hari ini langsung kita laksanakan kerja bakti perbaikan rumah Bu Yuliana,” ujar Anjik saat meninjau lokasi.
Perbaikan rumah dilakukan secara swadaya, dengan bantuan material dan dana dari berbagai pihak, termasuk perangkat desa, jajaran kecamatan, serta dukungan langsung dari Kapolres dan Kapolsek Mojoagung. Sasaran perbaikan meliputi atap, dinding, dan lantai yang sebelumnya bocor, reot, dan berlubang.
“Target pengerjaan satu minggu. Sementara, Bu Yuliana akan tinggal di rumah ibunya dulu sampai rumahnya layak huni dan bisa ditempati kembali,” lanjut Anjik.
Kepala Desa Johowinong, Rojiun Heru Widodo, mengakui bahwa selama ini pihaknya tidak mengetahui kondisi rumah Bu Yuliana karena posisi rumah tertutup bangunan lain dan tidak terlihat dari jalan.
“Secara fisik dari depan tampak masih layak, tapi ternyata bagian belakang sudah miring dan rusak parah. RT pun tidak mengetahui sebelumnya. Tapi setelah berita viral, kami langsung adakan rapat dan kerahkan warga untuk gotong royong perbaikan,” jelas Heru.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah desa selama ini telah memberikan bantuan beras secara rutin kepada Yuliana, meski belum bisa mengakses program bantuan seperti PKH. Proses pengajuan PKH saat ini sedang dilakukan melalui survei dari pihak kecamatan.
“Pasca perbaikan, kami juga akan berupaya mencarikan peluang usaha tambahan bagi Bu Yuliana agar beliau bisa hidup lebih layak,” tambahnya.
Yuliana sendiri mengaku sangat bersyukur atas perhatian dan respon cepat dari pemerintah. Ia berharap rumahnya bisa diganti dengan bangunan tembok agar lebih kuat dan aman, terutama saat hujan dan angin kencang.
“Alhamdulillah, langsung direspon. Rumah ini rusak sudah dua tahun, tapi saya nggak punya uang buat memperbaiki. Harapan saya, jangan dari gedek lagi, semoga bisa tembok biar awet,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Meski penghasilannya sangat minim, Yuliana tetap semangat mengajar anak-anak TK sejak tahun 2020. Baginya, mengajar adalah panggilan hati.
“Saya tetap semangat karena sayang anak-anak. Gaji kecil nggak apa-apa, yang penting bisa ikut mencerdaskan mereka,” ujar ibu satu anak ini.
Leave a Comment