Warga Dusun Jombang Krajan, Desa/Kecamatan/Kabupaten Jombang yang gotong royong perbaiki tanggul Sungai Sekunder Gude-Ploso yang ambrol. (Kevin Nizar).
JOMBANG, KabarJombang.com-Tanggul Sungai Sekunder Gude-Ploso di Dusun Jombang Krajan, Desa/Kecamatan/Kabupaten Jombang, tepatnya di sebelah utara Pabrik Gula Jombang Baru, mengalami kerusakan dan ambrol sejak sekitar dua tahun terakhir.
Kerusakan tanggul tersebut membuat warga di sekitar lokasi dihantui ancaman banjir setiap kali debit air sungai meningkat. Air bahkan disebut kerap meluber hingga masuk ke rumah warga.
Karena belum ada tindak lanjut perbaikan meski telah dilaporkan kepada pihak terkait, warga akhirnya berinisiatif memperbaiki tanggul secara swadaya menggunakan dana pribadi.
Perbaikan mulai dilakukan sekitar sepekan terakhir secara gotong royong dan salah satu warga menjadi pemodal untuk pembelian material. Hingga saat ini, biaya material yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp2,5 juta dan pekerjaan belum sepenuhnya selesai.
Masrukin (65), warga setempat mengatakan, kerusakan tanggul sudah berlangsung cukup lama. Kondisi tanggul semakin parah karena tergerus aliran air.
“Ambrolnya sudah lama, sudah sekitar dua tahunan,” ujar Masrukin saat ditemui di lokasi Selasa (11/8/2026)
Menurutnya, kerusakan tanggul terjadi karena bagian pelengsengan banyak mengalami lubang. Lubang tersebut diduga menjadi jalur masuk air dan semakin memperparah kondisi struktur tanggul.
Masrukin menyebut, air banjir bahkan pernah masuk ke rumah-rumah warga. Ketinggian air bervariasi, mulai sekitar setinggi lutut hingga mendekati perut orang dewasa.
“Kalau yang sini masih satu dengkul, tapi kalau di sana bisa sampai sekitar satu meter,” ujarnya.
Menurut warga, bagian tanggul yang mengalami kerusakan cukup panjang. Diperkirakan mencapai sekitar 200 meter.
Setidaknya terdapat sekitar 10 rumah atau 15 kepala keluarga (KK) yang berpotensi terdampak apabila air sungai kembali meluap melalui bagian tanggul yang rusak.
Kondisi inilah yang membuat warga memilih melakukan perbaikan sendiri. Mereka khawatir jika hanya menunggu penanganan, kerusakan akan semakin parah dan banjir kembali menggenangi rumah warga.
“Sudah laporan ke RT, katanya diteruskan dan menghubungi sana, tapi belum ada tindak lanjut. Daripada menunggu dan nanti banjir lagi, akhirnya diperbaiki sendiri,” kata Masrukin.
Perbaikan dilakukan secara gotong royong. Warga mengerjakan bagian yang mampu mereka tangani, sementara kebutuhan material dibiayai secara pribadi.
Suwadi mengatakan, hingga tahap pekerjaan saat ini, biaya material yang telah dikeluarkan sekitar Rp2,5 juta. Pekerjaan tersebut nantinya masih akan dilanjutkan dengan pengecoran atau rabat beton.
“Materialnya sudah sekitar Rp2,5 juta. Ini belum selesai, nantinya dirabat beton,” ujarnya.
Sementara Suwadi, warga setempat yang juga selaku pemodal menjelaskan, kondisi tanggul yang semula rata kini menjadi miring akibat terus tergerus air. Di beberapa bagian bahkan terdapat lubang dan amblesan.
“Awalnya rata, tapi tergerus air akhirnya miring. Tengahnya berlubang dan ambles,” katanya.
Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin parah apabila tidak segera diperbaiki. Terlebih, kawasan tersebut sudah beberapa kali mengalami banjir ketika air sungai meluap.
Warga berharap kerusakan tanggul tersebut mendapat perhatian dan penanganan dari instansi yang berwenang.
Mereka tidak ingin perbaikan darurat yang dilakukan secara swadaya menjadi satu-satunya solusi, mengingat panjang kerusakan tanggul mencapai sekitar 200 meter dan terdapat permukiman warga yang berada di kawasan rawan terdampak luapan sungai.
Bagi warga, perbaikan tersebut bukan sekadar memperbaiki tanggul yang rusak, tetapi juga menjadi upaya untuk mencegah banjir kembali masuk ke rumah mereka ketika Sungai Gude-Ploso meluap.
Ketua RT 2 RW 1 Dusun Jombang Krajan, Imam, membenarkan bahwa persoalan kerusakan tanggul tersebut telah disampaikan kepada pemerintah desa.
“Saya sudah sampaikan ke kepala desa. Katanya juga sudah dilaporkan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” kata Imam.
Menurutnya, warga memilih melakukan perbaikan secara swadaya agar kerusakan tidak semakin parah dan dapat mengurangi risiko banjir yang mengancam permukiman.
“Ini warga akhirnya swadaya memperbaiki sendiri supaya tidak terjadi banjir lagi dan jebolnya tidak semakin parah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Imam Bustomi, saat dikonfirmasi mengenai kerusakan tanggul tersebut mengatakan, Sungai Sekunder Gude-Ploso berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
“Sungai Sekunder Gude-Ploso, kewenangan BBWS Brantas,” kata Imam Bustomi.
Upaya konfirmasi juga dilakukan ke BBWS Brantas di kantor yang berada di Jalan Patimura Nomor 100, Jombatan, Jombang, untuk meminta penjelasan terkait kondisi tanggul serta penanganan yang akan dilakukan.
Namun, berdasarkan keterangan salah seorang penjaga di kantor tersebut, pimpinan BBWS Brantas masih berada di Surabaya sehingga belum dapat memberikan keterangan terkait persoalan tersebut.
Leave a Comment